Langkah Persuasif Polres Flotim Didukung Kades dan Tokoh Masyarakat di Adonara
- calendar_month 43 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Larantuka, ReportaseNews – Pendekatan persuasif dan humanis pasca terjadinya konflik sosial di Adonara, Kabupaten Flores Timur oleh aparat Polres Flores Timur didukung oleh kepala desa dan tokoh masyarakat setempat.
Melalui pendekatan tersebut diharapkan mampu mencegah terjadinya konlik susulan antara warga yang nengakibatkan 50 rumah dibakar massa pada tanggal 6 Maret, 9 Mei dan 10 Mei 2026 lalu.
“Kalau saya sebagai pemerintah desa sangat mendukung langkah pihak kepolisian, apalagi dengan mengedepankan pemeliharaan kamtibmas dibanding penegakkan hukum,” kata Kepala Desa Saosina Jamaludin Jou Dadi kepada ReportaseNews.com, Sabtu (30/5).
Jamaludin mengatakan langkah persuasif Polres Flores Timur telah menghasilkan ratusan senjata api rakitan dan senjata tajam yang diserahkan oleh warga secara sukarela.
Dia menjelaskan, ada jaminan dari polisi kepada warga jika secara sukarela mau menyerahkan senjata api rakiran dan senjata tajam tidak akan dilakukan penegakkan hukum. Dan juga telah disampaikan kepada masyarakat melalui pemerintah desa yang diteruskan kepada warga.
“Karena itu warga mau serahkan secara suka rela, kami juga sudah bilang ke masyarakat kalau diserahkan dengan sukarela tidak akan dihukum, makanya mau menyerahkan melalui kami,” ujarnya..
“Dan juga telah diingatkan kepada masyarakat bahwa jika tidak mau menyerahkan (secara suka rela) lalu di kemudian hari ditemukan oleh polisi maka resiko ditanggung sendiri, karena pasti polisi akan lakukan penindakan secara hukum, tinggal.masyarakat yang berpikir, kalau mau baik ya serahkan, tapi kalau mau dihukum ya silahkan saja,” sambung Jamaludin.
Dikatakannya saat ini situasi.keamanan sudah berangsur pulih pasca terjadi bentrokan antar warga Desa Nara Saosina dan Desa Weburak, Kecamatan Adonara Timur. Aktifitas warga juga diklaimnya sudah berjalan normal dan aktifitas perekonomian pun sudah pulih.
“Kalau brimob, polisi masih tetap jaga, tapi memang situasi sudah kondusif masyarakat sudah bisa aktifitas dengan baik, perekonomian juga sudah pulih,” jelasnya.
Terpisah tokoh masyarakat setempat Dominikus Daton mengungkapkan upaya pemeliharaan kamtibamas yang dilakukan aparat kepolisian sudah sangat tepat untuk mencegah terjadinya konflik antar warga.
Dia bilang langkah penegakkan hukum belum tentu bisa menyelesaikan persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.
“Yang kami harapkan saat ini pemeliharaan keamanan, itu yang terpenting dan bisa meredam situasi tapi bukan berarti penegakan hukum dikesampingkan, kita harus melihat emosi massa juga, kalau penegakan hukum dilakukan apakah bisa selesaikan persoalan, belum tentu juga,” jelas Domi Daton yang juga sebagai Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Narasosina.
Dia berharap polisi bisa terus melakukan koordinasi dan menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh pihak yang bertikai sehingga kamtibmas tetap terpelihara.
Sementara itu,
Abubakar Doni warga Desa Narasosina yang menjadi korban rumahnya dibakar massa saat bentrokan 6 Maret 2026 lalu, mengatakan sejak pecah konflik sosial yang terjadi sebanyak tiga kali yakni tanggal 6 Maret, 9 dan 10 Mei 2026 mengatakan pasca terjadi bentrokan terakhir pada 10 Mei lalu terasa sangat kuatir.
Namun kehadiran polisi dan brimob yang hingga kini masih melakukan pengamanan mereka merasa tenang. Karena sudah ada jaminan keamanan.
Abubakar juga menyambut baik proses penyerahan senjata api rakitan dan senjata tajam secara suka rela dari pihak-pihak yang terlinat bentrokan.
Namun dia tetap meminta agar para pelaku pembakaran untuk ditangkap dan diadili.
Polres Flores Timur (Flotim), NTT mengamankan ratusan senjata api rakitan dan senjata tajam pasca terjadinya konflik sosial di Pulau Adonara pada 9 Mei 2026 lalu.
Menurut Kapolres Flores Timur, AKBP. Adhitya Octorio Putra ada sebanyak 863 senjata api rakitan, senjata tajam, amunisi dan dua botol spritus yang diamankan dari masyarakat.
“Totalnya ada sekitar 863 terdiri dari 174 pucuk senpira, 258 amunisi, 86 buah busur panah, 343 anak panah, dan 2 botol spritus,” kata Kapolres Flotim, AKBP. Adhitya Octorio Putra kepada ReportaseNews.com, Sabtu 30/5).
Dia menerangkan ratusan senpira, sajam, dan amunisi tersebut disita dari warga di tiga desa yakni Desa Weburak, Desa Nara Saosina dan Desa Sosina pasca terjadinya konflik sosial antara warga Desa Weburak dan Nara Saosina.
“Kalau yang berkonflik itu antara Desa Weburak dan Nara Saosina, tapi warga dari Desa Saosina juga dengan suka rela mau menyerahkan senpira dan sajam mereka,” kata Adhitya.

Dijelaskannya ratusan sajam dan senpira itu diserahkan secara sukarela oleh warga yang pasca konflik di Adonara Timur kepada aparat kepolisian melalui kepala desa masing-masing.
Konflik sosial yang melibatkan warga dua desa yakni Desa Weburak dan⁸ Nara Sosina di Kecamatan Adonara Timur tersebut dipicu masalah sengketa lahan.
Akibat konflik tersebut ada 50 rumah yang dibakar. Dan saat berkonflik massa pun menggunakan sepira dan sajam untuk saling menyerang. Sejauh ini tidak ada korban luka atau meninggal dari tiga kali konflik tersebut.
Dia mengklaim, saat ini situasi keamanam pasca terjadinya konflik sudah kondusif. Aktifitas masyarakat juga sudah kembali normal. Namun demikian, petugas brimob dan Polres Flotim yang masih melakukan pengamanan di lokasi konflik untuk.mencegah terjadinya konflik susulan. (EB/RN-04).
- Penulis: Didik




Saat ini belum ada komentar