Sihir Salumpat Saindege di Panggung PRSU 2026
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Para penari cilik Sanggar SIG membawakan tarian Harmoni Salumpat Saindege yang enerjik di Panggung Keong PRSU 2026. Kostum hitam-emas mereka menjadi simbol kearifan lokal yang bersinar. (FOTO: RN/LILY)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medan, ReportaseNews – Ribuan pasang mata tak berkedip menatap Panggung Keong Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), Jalan Gatot Subroto, Medan, Jumat (17/7/2026) malam. Gemuruh tepuk tangan memecah malam saat anak-anak muda berprestasi asal Kota Padangsidimpuan menutup pementasan mahakarya drama musikal bertajuk “Dari Salumpat Saindege Menuju Harmoni Emas”.
Malam Pagelaran Seni dan Budaya Pemerintah Kota Padangsidimpuan di PRSU ke-50 kali ini mengambil jalan cerita yang tak biasa. Alih-alih sekadar menampilkan rentetan tarian tradisional secara kaku, tim kesenian membalut kearifan lokal dalam sebuah alur cerita kontemporer yang segar, menghibur, tetapi sarat pesan filosofis.
Sejak tirai panggung dibuka, penonton langsung disuguhkan energi luar biasa dari atraksi Moccak Angkola yang dibawakan Anwar Sadat, Ziaul Hasan Siregar, Afif Nasution, dan Cahaya Kurnia bersama Keisha Diva.
Gerak rancak itu mengalir mulus menuju tari persembahan Endeng-endeng. Lewat gemulai Rizka, Nasyah, Aulia, Alya, Nazila, Tina, Aisyalim, dan Syanala, tarian ini dikemas dengan konsep moderen, tetapi tetap mempertahankan muruah penghormatan kepada para tamu.

Anak-anak berprestasi Padangsidimpuan beraksi dalam adegan drama musikal Salumpat Saindege di PRSU 2026. Mereka menampilkan bakat seni peran dan tari dengan latar belakang pedesaan yang khas, mengangkat filosofi budaya leluhur. (FOTO: RN/LILY)
Kejutan sesungguhnya hadir ketika alunan musik tradisional berpadu dengan nada-nada moderen. Lagu daerah Ketabo-Ketabo dirombak menjadi komposisi jazz yang mewah. Perpaduan vokal Ello dan Yolla, tiupan saxophone dari Rully, serta denting keyboard Ronny Saputra dan Band EL-Ritonga berhasil memaksa penonton ikut bergoyang ringan. Ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan strategi cerdas memperkenalkan musik daerah ke telinga generasi kiwari (kekinian).
Memasuki menu utama, panggung dikuasai oleh deretan aktor dan aktris cilik berbakat seperti Dian Batubara, Nurul Nasution, Tarisa Harahap, Azmil Hidayat, Aflah Mubarok Harahap, Fadhilah Husna Panggabean, Delisha Mumtazah Siregar, Ridho Siregar hingga Dzahira Kanza. Mereka membawakan drama musikal Salumpat Saindege yang mengangkat roh kehidupan masyarakat Batak, yakni filosofi Dalihan Na Tolu.
Keseimbangan relasi sosial antara mora, kahanggi, dan anak boru tidak diceritakan lewat petuah menggurui, melainkan lewat dialog-dialog berbalut humor yang mengundang tawa lepas penonton.
Pesan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur, kepedulian sosial, dan kesiapsiagaan menghadapi persoalan zaman tersampaikan dengan renyah. Transisi emosi penonton kemudian dibawa memuncak lewat tarian Harmoni Salumpat Saindege. Balutan kostum bernuansa hitam dan emas yang dikenakan Naura Khanza, Zafira Asofie,
Naomi Qanita, Shakila Alesha, Anggita Harahap beserta penari lainnya menambah kesan megah di bawah sorot lampu panggung.
Kesuksesan visual dan narasi malam itu tak lepas dari kerja keras di balik layar. Seluruh komposisi musik, aransemen, dan koreografi merupakan karya orisinal tim kesenian Kota Padangsidimpuan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Padangsidimpuan Ahmad Hariri Hasibuan bersama timnya bertindak mengomandoi produksi. Tangan dingin sutradara Chatib Lubis, polesan coach Ivan Kurniawan Siregar dan Zulfadli Siregar dari Sanggar Sidimpuan Idol Grup (SIG), hingga dedikasi tim tata rias Bunda Lusi dan Rini Siregar, menjadi kunci utuhnya jiwa pementasan ini.
Daya tarik panggung malam itu tidak hanya milik drama musikal. Jantung penonton sempat dibuat berdebar saat dua penari, Zahra Pane dan Ivana Meira, nekat bergelut dan melompat di atas pecahan piring kaca, sebuah kolaborasi etnis yang menguji adrenalin sekaligus memanjakan mata.

Sesi foto bersama jajaran Pemko Padangsidimpuan dan para pengisi acara. (FOTO: RN/LILY)
Wali Kota Padangsidimpuan Letnan Dalimunthe, yang hadir langsung bersama Ketua TP PKK Masroini Ritonga serta jajaran Forkopimda, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Dari kursi kehormatan, dia melihat bagaimana budaya daerahnya berhasil menjadi magnet utama di ibu kota provinsi.
“Melalui Pekan Raya Sumatera Utara, kami ingin memperkenalkan budaya Kota Padangsidimpuan sekaligus memperkuat komitmen dalam melestarikan warisan budaya melalui sinergi dan kolaborasi,” ujar Letnan Dalimunthe di hadapan ribuan pengunjung PRSU.
Letnan meyakini panggung PRSU ke-50, yang berlangsung hingga 2 Agustus 2026, merupakan etalase terbaik untuk menunjukkan bahwa Padangsidimpuan tidak hanya kaya potensi investasi, tetapi juga memiliki peradaban budaya yang terus hidup dan beregenerasi.
Apresiasi serupa datang dari Direktur Keuangan dan Umum PT PPSU Zia Muhammad, yang menilai konsistensi Kota Padangsidimpuan dalam menyajikan pertunjukan atraktif selalu sukses mencuri antusiasme publik setiap tahunnya.
Malam kebudayaan yang megah itu akhirnya ditutup dengan hangat lewat pembagian berbagai door prize menarik bagi masyarakat yang bertahan hingga akhir acara. Di bawah langit Medan, Padangsidimpuan sukses membuktikan bahwa budaya masa lalu bisa tetap menjadi bintang di masa kiwari jika dirawat oleh tangan-tangan yang tepat. (Lily)
- Penulis: RN-03




Saat ini belum ada komentar