Hari Ini 6 Tahun Lalu, Covid-19 Pertama Kali Hadir di Indonesia
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Enam tahun sejak kasus pertama Covid-19 di Indonesia diumumkan Presiden Joko Widodo, pasien 01 Sita Tsayutami mengenang tekanan fisik dan psikologis yang dialaminya. (Foto: Instagram/sitatyasutami)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Tepat 2 Maret menjadi penanda penting dalam sejarah pandemi di Tanah Air. Pada tanggal tersebut, kasus pertama Covid-19 di Indonesia resmi diumumkan pemerintah.
Pengumuman itu disampaikan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan pada 2 Maret 2020. Saat itu, dua warga Depok, Jawa Barat, dinyatakan positif terinfeksi virus corona jenis SARS-CoV-2.
Keduanya adalah Sita Tyasutami (pasien 01) dan ibunya, Maria Darmaningsih (pasien 02). Tak lama kemudian, Ratri Anindyajati yang merupakan kakak Sita juga dinyatakan positif sebagai pasien 03.
Dalam keterangannya, Jokowi mengungkapkan, penularan diduga bermula dari interaksi dengan seorang warga negara Jepang yang sebelumnya terdeteksi positif di Malaysia.
“Minggu yang lalu ada informasi bahwa ada orang Jepang yang ke Indonesia kemudian tinggal di Malaysia dan dicek di sana ternyata positif corona,” kata Jokowi saat itu.
“Orang Jepang ke Indonesia bertamu siapa, ditelusuri dan ketemu. Ternyata orang yang terkena virus corona berhubungan dengan dua orang, ibu 64 tahun dan putrinya 31 tahun,” lanjutnya.
Sita mulai merasakan gejala pada 16 Februari 2020 dan menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Depok pada 27 Februari 2020. Kondisinya kemudian dirujuk ke RSPI Sulianti Suroso pada 1 Maret 2020 sebelum akhirnya diumumkan positif sehari berselang.
Setelah dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit, Sita mengaku masih merasakan dampak lanjutan. Ia mengalami sesak napas dan tubuh yang mudah lemas.
Lebih dari itu, tekanan psikologis menjadi beban berat yang ia rasakan sebagai pasien pertama Covid-19 di Indonesia.
Dalam wawancara yang dikutip dari Antara pada 29 April 2020, Sita mengungkapkan tekanan tersebut datang dari berbagai arah, mulai dari rasa takut terhadap penyakit hingga sorotan publik dan media.
“Saya merasakan tekanan, rasa shock dan takut sebagai pasien yang terkonfirmasi positif dan ada tekanan eksternal dari media dan rakyat Indonesia. Jadi saat itu dengan adanya beragam pemutarbalikan fakta, saya mengalami tekanan batin luar biasa, fisik saya drop karena tekanan batin melemahkan imun saya,” ujar Sita, dikutip Antara, Senin (2/3/2026).
Meski demikian, ia bersyukur mendapat dukungan keluarga dan rekan-rekannya. Ia juga berkonsultasi dengan seorang psikolog untuk membantu mengatasi tekanan mental yang dialaminya.
Sita menilai, layanan psikologi resmi dari pemerintah sangat dibutuhkan, terutama di tengah maraknya hoaks yang memicu kepanikan publik.
“Dengan adanya layanan psikologi resmi pemerintah akan jauh lebih baik. Maraknya hoaks menyebabkan kepanikan publik. Menurut saya tidak hanya mereka yang positif COVID-19, namun mereka yang tidak positif juga membutuhkan layanan psikologi sama halnya seperti kami pasien COVID-19,” ujarnya. (RN-07)
- Penulis: Tama


Saat ini belum ada komentar