Anies Baswedan Kembali ke Kracak, Nostalgia Memuncak
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Anies Baswedan menghadiri reuni 30 tahun bersama warga Desa Kracak dan Penaruban, Purbalingga. Momen silaturahmi penuh nostalgia diwarnai kenangan KKN dan kehangatan Idul Fitri. (Foto: ReportaseNews/Kus)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Purbalingga, ReportaseNews — Anies Baswedan kembali mengunjungi Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dalam rangka menjalin silaturahmi dengan warga yang telah dikenalnya sejak tiga dekade lalu. Kunjungan tersebut berlangsung di Desa Penaruban, Minggu (12/4/2026), dalam suasana Idul Fitri yang hangat dan penuh kebersamaan.
Kedatangan Anies bukan sekadar agenda biasa, melainkan pertemuan emosional dengan sahabat lama yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia diketahui pernah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 1994 saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, tepatnya di Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang.
Setelah menghadiri acara halal bihalal di kawasan wisata pendidikan Pancuran Mas, Anies melanjutkan kunjungan ke kediaman warga di Desa Penaruban. Di lokasi tersebut, ia disambut oleh masyarakat yang antusias, termasuk sahabat lamanya seperti Rudi Yahya dan Siti Syarifah.
Kehadiran Anies dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut. Warga dari berbagai wilayah, termasuk komunitas Sahabat Anies Kracak dan Ajibarang, berdatangan untuk bertemu langsung. Suasana penuh kehangatan tampak dari saling sapa, jabat tangan, hingga pelukan antarwarga dan Anies.
Dalam sambutannya, Anies menekankan pentingnya menjaga hubungan persahabatan yang telah terjalin lama.
“Bukan sekadar datang ke tempatnya, tetapi bagaimana kita merawat dan memupuk persahabatan yang sudah berjalan panjang, bahkan seperti saudara,” kata Anies.
Ia juga mengenang masa-masa ketika berdiskusi bersama warga terkait berbagai isu sosial dan pengembangan masyarakat desa. Pengalaman tersebut, menurutnya, memberikan banyak pelajaran berharga dalam membentuk cara pandangnya hingga saat ini.
Kehangatan acara semakin terasa dengan sajian kuliner khas Banyumas seperti tempe mendoan dan soto. Hidangan tersebut membangkitkan kenangan masa lalu Anies selama menjalani KKN di wilayah tersebut.
“Kalau ke Banyumas, mendoan itu wajib,” ujarnya.
Momen kebersamaan juga diwarnai pembacaan puisi oleh Presiden Geguritan, Wanto Tirta, yang mengangkat tema perjalanan dan makna persaudaraan. Ia menyebut pertemuan ini bukan sekadar temu kangen, tetapi bagian dari menjaga ikatan kekeluargaan.
“Ini bukan sekadar temu kangen, tetapi bagian dari merawat seduluran,” ungkapnya.
Di akhir kegiatan, Anies menyampaikan apresiasi kepada warga yang tetap menjaga hubungan baik selama bertahun-tahun.
“Saya berterima kasih atas kepercayaan dan dukungan warga. Ini bukan hanya tentang satu tempat, tetapi tentang nilai kebersamaan yang lebih luas,” tuturnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan keguyuban sebagai fondasi pembangunan desa. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, disertai harapan agar silaturahmi tersebut terus terjaga di masa mendatang.
Pertemuan ini menjadi bukti bahwa relasi yang dibangun dengan ketulusan mampu bertahan melampaui waktu, bahkan hingga puluhan tahun. (Kus)
- Penulis: Kusworo
- Editor: Ullifna Tamama



Saat ini belum ada komentar