Ibu Pekerja Migran Pulang dari Taiwan, Tangis Anak SMK di Brebes Pecah di Panggung Kelulusan
- calendar_month 10 menit yang lalu
- print Cetak

Momen haru terjadi di pelepasan siswa SMK Ma’arif NU Paguyangan Brebes saat seorang siswa bertemu kembali dengan ibunya yang pulang dari Taiwan setelah tiga tahun berpisah. (Foto: ReportaseNews/Kus)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Brebes, ReportaseNews – Suasana pelepasan siswa di SMK Ma’arif NU Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, berubah penuh haru ketika seorang siswa tak kuasa menahan tangis saat bertemu kembali dengan ibunya yang baru pulang dari Taiwan setelah tiga tahun bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI).
Momen emosional itu terjadi saat Wili Okta Salindra, siswa jurusan Teknik Sepeda Motor, tengah mengikuti prosesi pelepasan sekolah. Tanpa diduga, sang ibu, Rohanita, muncul di tengah acara dan langsung memeluk anaknya.
Tangis keduanya pecah di hadapan para siswa, guru, dan wali murid yang hadir. Sejumlah tamu bahkan ikut terharu menyaksikan pertemuan ibu dan anak tersebut setelah lama terpisah jarak dan waktu.
Rohanita mengaku sengaja merahasiakan kepulangannya dari Taiwan agar dapat memberi kejutan kepada sang anak di hari kelulusannya.
“Saya sangat terharu. Bukan cuma sebulan atau satu tahun belum ketemu anak saya, tapi lebih dari tiga tahun. Saya pergi karena harus berjuang sendiri buat sekolah anak saya,” ujar Rohanita sambil menangis, Senin (11/5/2026).
Perempuan asal Desa Telaga, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas itu mengatakan dirinya harus meninggalkan anak semata wayangnya demi mencari nafkah. Sebagai orang tua tunggal, ia memilih bekerja di luar negeri agar kebutuhan pendidikan anaknya tetap terpenuhi.
Selama bekerja di Taiwan, Rohanita mengaku menahan rindu karena melewatkan banyak momen penting bersama anaknya. Ia bahkan tidak pernah merasakan rutinitas sederhana seperti menyiapkan sarapan atau mengantar anak ke sekolah.
Dalam suasana penuh emosi itu, Rohanita juga terlihat memeluk ibundanya dan bersimpuh sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah membantu merawat Wili selama dirinya bekerja di luar negeri.
Sementara itu, Wili mengaku bahagia karena sang ibu akhirnya bisa hadir langsung di momen penting dalam hidupnya.
“Saya senang banget ibu bisa hadir langsung di acara pelepasan ini. Terima kasih sudah berjuang dan pulang untuk saya,” kata Wili.
Kepala SMK Ma’arif NU Paguyangan, Mardiyanto, menilai perjuangan orang tua yang rela bekerja jauh demi pendidikan anak merupakan pengorbanan luar biasa.
“Menurut saya luar biasa sekali seorang ibu sampai meninggalkan anaknya demi mencari nafkah ke luar negeri untuk membiayai sekolah anaknya,” ujar Mardiyanto.
Pihak sekolah berharap kisah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para siswa agar lebih menghargai perjuangan orang tua dalam memperjuangkan masa depan anak-anak mereka. (Kus)
- Penulis: Kusworo
- Editor: Ullifna Tamama




Saat ini belum ada komentar