Denny Siregar dan Rudi Soedjarwo Ungkap Tantangan Besar di Balik Film Tanah Runtuh
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Film Tanah Runtuh hadir sebagai salah satu karya sinema Indonesia yang mengangkat tema kemanusiaan, toleransi, dan keluarga di tengah konflik sosial.
Produser Denny Siregar dan sutradara Rudi Soedjarwo mengakui proses penggarapan film tersebut tidak mudah, terutama karena harus menyajikan peristiwa berlatar sejarah tanpa memicu kebencian di tengah masyarakat.
Menurut Denny, tantangan terbesar dalam membuat film berlatar sejarah adalah menghubungkan peristiwa masa lalu dengan realitas yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Kesulitan membuat film berlatar sejarah adalah bagaimana menyambungkan waktu antara tahun kejadian dengan kondisi sekarang,” kata Denny dalam sesi diskusi film.
Ia berharap penonton memperoleh pelajaran berharga setelah menyaksikan Tanah Runtuh. Menurutnya, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana refleksi agar masyarakat dapat belajar dari berbagai peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia.
“Semoga ada sesuatu yang tertanam di hati dan pikiran penonton setelah keluar dari bioskop sehingga ketika menghadapi persoalan di masa depan, kita bisa belajar dari pengalaman sejarah yang lebih berat,” ujarnya.
Angkat Kisah Kebaikan di Tengah Konflik
Denny menilai Indonesia memiliki kekayaan cerita yang sangat besar, mulai dari berbagai konflik sosial hingga peristiwa sejarah yang membentuk perjalanan bangsa. Namun, tidak banyak rumah produksi yang berani mengangkat tema-tema tersebut karena membutuhkan biaya besar dan memiliki risiko komersial yang lebih tinggi dibanding genre populer lainnya.
Menurutnya, Tanah Runtuh berupaya menghadirkan kisah tentang kebaikan di tengah situasi kekacauan.
“Indonesia kaya dengan cerita seperti ini. Dari Ambon, Poso, Sampit hingga berbagai peristiwa sejarah lainnya. Tinggal bagaimana sudut pandangnya diambil,” jelasnya.
Dalam pengembangan cerita, Denny dan Rudi sepakat menggunakan sudut pandang dua anak yang kehilangan ibunya di tengah konflik. Pendekatan tersebut dipilih agar film mampu menyampaikan pesan kemanusiaan tanpa memunculkan sentimen permusuhan.
“Bagaimana membuat film tentang kerusuhan tetapi tidak membuat orang saling membenci, itu tantangan terbesar kami,” ungkap Denny.
Karakter Ringgo Jadi Simbol Harapan
Salah satu elemen yang menjadi perhatian dalam Tanah Runtuh adalah kehadiran karakter Ringo, seorang anak dengan Down Syndrome yang diperankan oleh Rido.
Denny menilai karakter tersebut memiliki peran penting dalam perjalanan cerita. Ia menyebut anak-anak dengan Down Syndrome memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan, termasuk dalam menghadapi rasa takut.
“Ringgo justru menjadi sosok yang menyelamatkan Kai. Tanpa disadari, keberaniannya membantu Kai menghadapi ketakutan di tengah situasi yang sulit,” katanya.
Menurut Denny, kehadiran karakter tersebut juga menjadi simbol penting tentang pemberdayaan anak berkebutuhan khusus yang selama ini belum banyak mendapatkan ruang di industri perfilman.
Rudi Soedjarwo: Film Ini Mengajarkan Makna Menjadi Manusia
Sementara itu, sutradara Rudi Soedjarwo mengaku memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan proyek Tanah Runtuh. Ia menilai film tersebut menjadi pengalaman yang berbeda dibanding karya-karyanya sebelumnya.
Menurut Rudi, pemahamannya terhadap kehidupan dan manusia turut memengaruhi cara ia menyutradarai film tersebut.
“Kalau film ini datang kepada saya dua puluh tahun lalu, hasilnya mungkin akan berbeda. Sekarang saya melihat banyak hal dari sisi kemanusiaan yang lebih dalam,” ujarnya.
Rudi menilai salah satu pesan utama film adalah pentingnya keluarga sebagai fondasi sebuah bangsa. Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki kisah hidup yang penting dan layak untuk didengar.
“Sebuah negara berawal dari keluarga. Karena itu, kisah setiap orang sebenarnya penting. Semua orang adalah protagonis dalam kehidupannya masing-masing,” kata Rudi.
Menjaga Kealamian Cerita
Dalam proses penyutradaraan, Rudi berusaha menjaga kealamian setiap adegan agar emosi yang muncul terasa autentik bagi penonton.
Ia secara khusus menyoroti akting Rido yang dinilai mampu menghadirkan spontanitas dan energi yang sulit direkayasa.
“Saya tidak ingin karakter yang terlalu dibuat-buat. Ketika Rido bergerak secara spontan, kamera hanya mengikuti. Di situlah muncul keajaiban yang membuat cerita terasa hidup,” ungkapnya.
Menurut Rudi, kealamian tersebut menjadi salah satu faktor penting agar pesan film dapat diterima oleh penonton secara emosional.
Kolaborasi antara Denny Siregar, Rudi Soedjarwo, dan para pemain, termasuk Vino G. Bastian, Kai, serta Rido, diharapkan mampu menjadikan Tanah Runtuh sebagai film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak masyarakat merenungkan pentingnya toleransi, empati, dan kemanusiaan di tengah keberagaman Indonesia. (RN-09).
- Penulis: Ferdy Ferdy




Saat ini belum ada komentar