Grebeg Suro di Bojonegoro Temanggung, Berebut Berkah untuk Kesuburan Lahan Pertanian
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Tradisi Grebeg Suro di Desa Bojonegoro, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Ribuan warga berebut berkah hasil bumi yang telah didoakan dan berharap lahan pertanian mereka subur. (Foto: RN)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Temanggung, ReportaseNews – Tradisi Grebeg Suro kembali berlangsung di Desa Bojonegoro, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Ribuan warga berebut berkah hasil bumi yang telah didoakan dan berharap lahan pertanian mereka subur.
Rangkaian tradisi Grebeg Suro di Desa Bojonegoro Temanggung berlangsung 29-30 Juni 2026. Selain rebutan gunungan hasil bumi, acara 2 hari 2 malam ini dilanjutkan dengan wayang kulit, pengajian akbar Gus Iqdam, dan diakhiri pentas budaya.
Desa Bojonegoro Temanggung terletak di kaki Gunung Sindoro Sumbing. Mayoritas warga yang jumlahnya sekitar 3 ribu jiwa berprofesi sebagai petani sayur dan buah, tembakau, jagung, padi, dan kopi.
Acara Grebeg Suro berpusat di Paseban Malowopati. Di kawasan seluas 2 hektare terdapat tanah lapang yang dikelilingi bangunan berarsitektur Jawa.
Tradisi Grebeg Suro dilakukan pada awal bulan Suro menandai dimulainya tahun baru Jawa dan bertepatan dangan tahun baru Islam.
Acara dimulai dari arak-arakan puluhan gunungan hasil bumi mengelilingi jalanan desa dan berakhir di kawasan Paseban Malowopati.
Suasana begitu meriah. Bukan hanya warga setempat, puluhan ribu orang datang dari berbagai daerah.
Berkumpulnya puluhan ribu warga tak disia-siakan ratusan pedagang. Mereka menjajakan dagangan seperti makanan, minuman, mainan, dan pakaian di jalan sepanjang 1 km dari jalan utama menuju Paseban Malowopati.
Puluhan gunungan hasil bumi menyerupai tumpeng raksasa ini diisi aneka hasil pertanian warga setempat seperti padi, sayur, buah-buahan dan ayam ungkep.
Gunungan hasil bumi ditandu para pria warga setempat. Masing-masing RT di Desa Bojonegoro Temanggung mengusung sejumlah gunungan.
Begitu tiba di kawasan Paseban Malowopati, puluhan gunungan hasil bumi diperebutkan ribuan warga dengan riang gembira.
“Berkah untuk kita,” kata Suwito dengan senyum mengembang dengan tangan kirinya menggenggam padi dan kacang panjang yang berhasil diambilnya saat gunungan hasil bumi diperebutkan.
Suwito menyebut padi dan kacang panjang akan disebar ke lahan pertaniannya agar subur dan menghasilkan panen memuaskan.
“Gunungan hasil bumi sudah didoakan seluruh warga sebagai harapan kita agar hasil panen berkah,” imbuh Suwito.
Tak hanya para pria, kaum ibu-ibu warga setempat juga ikut berebut hasil gunungan. Bagi mereka yang tak berhasil mendapatkan hasil bumi yang diperebutkan, mereka mengambil bambu atau ayaman bambu tempat menggotong gunungan.
“Bambu ini akan kita taruh di kebun kita, Mudah-mudahan jadi ikut dapat berkah,” kata Sriatun, seorang ibu-ibu warga setempat.
Ari, tokoh masyarakat Desa Bojonegoro menyebut tradisi Grebeg Suro sudah berlangsung 10 tahun.
“Awalnya tak seramai ini, baru 3 tahun ini jauh lebih meriah,” kata Ari.
Ia berharap acara Grebeg Suro di desanya semakin meriah di tahun mendatang. Menurutnya acara Grebek Suro memberikan banyak manfaat dari ekonomi yang tumbuh, budaya yang kembali hidup, dan kebersamaan warga yang guyub. (RN-03)
- Penulis: RN-03




Saat ini belum ada komentar