Harga Daging Sapi Rp160 Ribu di Banyumas, Stok Menipis Imbas PMK
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Harga daging sapi tembus Rp160 ribu per kilogram di Banyumas. Stok sapi menipis diduga akibat dampak PMK, pedagang kesulitan pasokan sementara peternak menikmati kenaikan harga. (Foto: ReportaseNews/Kus)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyumas, ReportaseNews — Harga daging sapi di sejumlah wilayah melonjak hingga Rp160 ribu per kilogram sejak awal hingga Maret 2026. Kenaikan ini memunculkan dampak berbeda di tingkat pedagang dan peternak. Pedagang menghadapi keterbatasan pasokan, sementara peternak memperoleh keuntungan dari harga jual yang meningkat.
Di Pasar Hewan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu, kenaikan harga dinilai membantu meningkatkan pendapatan setelah sebelumnya harga cenderung stagnan. Namun kondisi tersebut tidak sepenuhnya menguntungkan karena stok sapi semakin sulit diperoleh.
“Sapi sudah habis, nggak ada lagi. Ini pengaruh dari PMK, banyak yang mati, jadi stok berkurang,” ujar Bagol, pedagang sapi di pasar tersebut, Rabu (8/4/2026).
Minimnya pasokan membuat pedagang harus mencari ternak hingga ke luar daerah. Kondisi ini menambah biaya operasional sekaligus memperbesar risiko usaha. Kenaikan harga tidak sepenuhnya mampu menutup kesulitan mendapatkan barang dagangan.
Berbeda dengan pedagang, peternak merasakan dampak positif dari lonjakan harga. Penjualan sapi meningkat, terutama setelah momen Idulfitri. Harga yang relatif stabil pada level tinggi dianggap menguntungkan bagi mereka.
“Peternak itu untung, harga sekarang masih stabil. Hari ini bawa lima ekor, semuanya laku,” kata Rahman, peternak asal Banyumas.
Kondisi tersebut juga mendorong sebagian masyarakat mulai membeli anakan sapi untuk dipelihara. Mereka memanfaatkan tren harga sebagai peluang investasi jangka menengah.
“Saya beli untuk dipelihara, nanti kalau sudah besar dijual lagi. Harapannya harga terus naik supaya petani sejahtera,” ungkap Arjo Sumarto, pembeli sapi.
Meski menguntungkan peternak, terbatasnya populasi ternak akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjadi tantangan serius. Pemulihan populasi sapi dinilai penting agar pasokan kembali stabil dan lonjakan harga tidak membebani masyarakat.
Penguatan pengendalian penyakit serta dukungan terhadap peternak diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan harga daging sapi di pasaran. Langkah tersebut diharapkan mampu menstabilkan rantai pasok sekaligus melindungi daya beli konsumen. (RN-07)
- Penulis: Kusworo
- Editor: Ullifna Tamama



Saat ini belum ada komentar