Demi Keselamatan Siswa, SMK Ma’arif NU Paguyangan Larang Konvoi Kelulusan
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

SMK Ma’arif NU Paguyangan di Brebes menggelar kelulusan tanpa konvoi demi keselamatan siswa. Kebijakan ini mendapat dukungan orang tua. (Foto: ReportaseNews/Kus)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Brebes, ReportaseNews — Tradisi konvoi dan perayaan kelulusan di jalan raya tak terlihat di SMK Ma’arif NU Paguyangan tahun ini. Sekolah memilih menggelar pengumuman kelulusan secara sederhana dan tertutup, dengan mengundang wali murid untuk mengambil hasil kelulusan secara langsung.
Langkah tersebut diambil sebagai upaya menghindari risiko kecelakaan dan perilaku berlebihan yang kerap terjadi saat momen kelulusan. Di lingkungan sekolah yang berada di wilayah Kabupaten Brebes itu, suasana berlangsung tenang dan tertib tanpa kehadiran siswa.
Kepala sekolah, Mardiyanto, mengatakan kebijakan ini telah dipertimbangkan secara matang. Ia menegaskan bahwa kelulusan seharusnya menjadi momen yang bermakna, bukan ajang pelampiasan euforia.
“Kami ingin momen kelulusan tetap menjadi sesuatu yang sakral, bukan ajang pelampiasan euforia,” kata Mardiyanto, Senin (4/5/2026).
Menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir, perayaan kelulusan identik dengan konvoi kendaraan, aksi coret-coret seragam, hingga insiden di jalan raya. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan siswa maupun masyarakat.
Respons positif datang dari para orang tua siswa. Yanti, salah satu wali murid asal Desa Karangkemiri, mengaku lebih tenang dengan sistem pengumuman seperti ini.
“Lebih baik seperti ini, tenang. Tidak ada konvoi, tidak ada coret-coret. Yang penting anak lulus dan selamat,” kata Yanti.
Ia menilai perayaan berlebihan justru membuka peluang terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, mulai dari kecelakaan hingga konflik di jalan.
“Kalau konvoi itu rawan kecelakaan. Kadang juga bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Yang rugi bukan hanya anak, tapi keluarga juga,” tuturnya.
Pada tahun ajaran 2025–2026, jumlah lulusan tercatat sebanyak 377 siswa, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 330 siswa. Sebagian lulusan telah diterima bekerja di berbagai perusahaan, sementara lainnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pihak sekolah menegaskan, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan atau capaian akademik. Aspek keselamatan dan pembentukan karakter dinilai menjadi prioritas utama.
Kebijakan tanpa konvoi ini menjadi alternatif di tengah budaya perayaan kelulusan yang kerap berlebihan. Dalam kesederhanaan tersebut, sekolah justru menempatkan nilai keselamatan dan makna kelulusan sebagai hal utama. (Kus)
- Penulis: Kusworo
- Editor: Ullifna Tamama



Saat ini belum ada komentar