Resahkan Petani, PB Perbakin Banten Basmi Hama Babi
- calendar_month 14 menit yang lalu
- print Cetak

Bamsoet mendukung perburuan babi hutan sebagai upaya melindungi lahan pertanian dan menjaga ketahanan pangan masyarakat di berbagai daerah. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Lebak, ReportaseNews — Anggota DPR RI yang juga Dewan Penasihat PB PERBAKIN, Bambang Soesatyo atau Bamsoet mendukung kegiatan perburuan babi hutan sebagai langkah pengendalian populasi satwa liar yang meresahkan petani di sejumlah daerah.
Menurut Bamsoet, meningkatnya populasi babi hutan telah memicu kerusakan lahan pertanian dan berdampak langsung terhadap hasil panen masyarakat. Kondisi tersebut banyak terjadi di wilayah yang berbatasan dengan kawasan hutan maupun daerah dengan perubahan bentang alam yang masif.
“Perburuan babi hutan menjadi langkah nyata menjawab keresahan petani yang selama ini menghadapi ancaman serius akibat meningkatnya populasi babi hutan. Saat lahan pertanian rusak dan hasil panen menurun, yang terdampak bukan hanya penghasilan petani, tetapi juga ketahanan pangan masyarakat,” ujar Bamsoet usai mengikuti kegiatan berburu bersama jajaran Pengurus Provinsi PERBAKIN Banten di Malimping, Lebak, Banten, Jumat (22/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Bamsoet hadir bersama Ketua Umum Pengprov PERBAKIN Banten Irjen Pol Nunung Syaifuddin. Kehadiran Bamsoet sebagai Dewan Penasihat PB PERBAKIN dinilai menunjukkan dukungan organisasi menembak terhadap pengendalian populasi satwa liar yang mengganggu sektor pertanian.
Dewan Penasihat PB PERBAKIN itu menilai ledakan populasi babi hutan tidak bisa dipandang sebagai persoalan sederhana. Perubahan fungsi lahan, menyusutnya habitat alami, serta tingginya kemampuan adaptasi babi hutan membuat konflik antara manusia dan satwa liar terus meningkat.
Ia menjelaskan, babi hutan memiliki tingkat reproduksi yang tinggi sehingga populasinya dapat berkembang pesat dalam waktu singkat. Akibatnya, berbagai komoditas pertanian seperti padi, jagung, singkong hingga tanaman hortikultura rentan mengalami kerusakan.
“Ketika petani sudah mengeluarkan biaya untuk bibit, pupuk, tenaga kerja dan menunggu masa panen selama berbulan-bulan, lalu hasilnya rusak hanya dalam hitungan malam akibat serangan babi hutan, tentu kita tidak bisa tinggal diam. Karena itu, pengendalian populasi melalui kegiatan berburu harus dilakukan secara berkala, profesional dan tetap mengacu pada aturan konservasi maupun keamanan,” kata Bamsoet.
Selain mendorong perburuan terukur, Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu juga meminta adanya langkah jangka panjang dalam penanganan konflik satwa liar. Di antaranya melalui pemetaan daerah rawan, penguatan sistem pelaporan masyarakat, pemanfaatan teknologi pemantauan kawasan pertanian hingga edukasi pengelolaan habitat.
Menurut dia, pengendalian populasi babi hutan perlu menjadi bagian dari strategi berkelanjutan untuk menjaga produktivitas pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani.
“Tujuan akhirnya adalah mengurangi keresahan masyarakat, menjaga hasil panen tetap aman, meningkatkan produktivitas pertanian dan memastikan petani bisa menikmati hasil kerja mereka secara optimal. Jika hasil panen terjaga, kesejahteraan petani meningkat dan ketahanan pangan daerah juga semakin kuat,” pungkas Bamsoet. (RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar