Kemenhut-BMKG Perkuat Karhutla dengan Operasi Modifikasi Cuaca
- calendar_month 18 menit yang lalu
- print Cetak

Kemenhut dan BMKG memperkuat pengendalian karhutla di Kalimantan dan Jawa Timur melalui Operasi Modifikasi Cuaca untuk mempercepat pemadaman. (Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews — Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan atau karhutla melalui Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC di sejumlah wilayah rawan kebakaran.
Operasi tersebut menyasar Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Jawa Timur. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat proses pemadaman, mencegah meluasnya kebakaran, sekaligus mengurangi dampak karhutla terhadap masyarakat.
Di Jawa Timur, OMC berlangsung pada 3 hingga 9 September 2026 menggunakan pesawat CASA A2104. Operasi diarahkan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Gunung Arjuno, serta sejumlah wilayah lain yang terdampak karhutla.
Sementara itu, OMC di Kalimantan Barat dilaksanakan pada 5 hingga 14 September dan di Kalimantan Tengah pada 6 hingga 14 September 2026. Kedua operasi tersebut menggunakan pesawat CASA 212 dengan dukungan logistik dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB.
Pelaksanaan OMC ditentukan berdasarkan analisis meteorologi BMKG, termasuk potensi pertumbuhan awan hujan, perkembangan titik dan kejadian karhutla, serta kondisi tinggi muka air tanah. Wilayah sasaran dipilih berdasarkan peluang terbentuknya awan hujan dan tingkat kerawanan karhutla.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengatakan dukungan teknologi OMC menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan karhutla di tengah upaya pemadaman yang dilakukan Satgas Darat.
“Di saat Satgas Darat Karhutla terus melakukan kegiatan pemadaman di lapangan, dukungan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca menjadi kunci dalam upaya penanganan karhutla agar secepat mungkin bisa dipadamkan,” kata Januanto, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/9/2026).
Januanto menyampaikan apresiasi kepada BMKG, BNPB, TNI AU, BPBD, serta seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan OMC. Operasi lanjutan tersebut dialokasikan melalui anggaran Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Kementerian Kehutanan tahun anggaran 2026.
Menurut Januanto, pengendalian karhutla tidak hanya ditujukan untuk melindungi kawasan hutan dan ekosistem, tetapi juga masyarakat yang tinggal serta bergantung pada lingkungan di sekitar kawasan terdampak.
“Yang kita lindungi bukan hanya ekosistem di kawasan hutan, tetapi juga masyarakat yang tinggal dan bergantung pada lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap langkah pengendalian karhutla diarahkan untuk menekan dampak terhadap kesehatan, aktivitas sosial, pendidikan, dan perekonomian masyarakat. Di sisi lain, apabila ditemukan dugaan pelanggaran hukum dalam peristiwa karhutla, proses penegakan hukum tetap dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB memastikan dukungan pesawat untuk pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat tetap disiagakan hingga 13 September 2026.
Kesiapsiagaan tersebut dilakukan untuk memanfaatkan setiap peluang pembentukan awan hujan yang dapat digunakan dalam mendukung pemadaman karhutla sekaligus mencegah munculnya titik kebakaran baru.
Dengan menggabungkan pemadaman langsung di lapangan dan intervensi berbasis analisis cuaca, pemerintah berharap pengendalian karhutla di wilayah rawan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar