Pengemudi Ojol Keluhkan Rencana Kenaikan Pertamax 1 April
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Pengemudi ojol mengeluhkan rencana kenaikan Pertamax 1 April 2026. Mereka menilai biaya operasional meningkat dan pendapatan harian terancam menurun. (Foto: RN/Ullifna Tamama)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax pada 1 April 2026 menuai keluhan dari pengemudi ojek daring atau ojek online (ojol). Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional sekaligus menekan pendapatan harian.
Sejumlah pengemudi ojek daring menyebut BBM sebagai kebutuhan utama untuk berkeliling mencari penumpang. Kenaikan harga bahan bakar dinilai akan memaksa mereka mengalihkan sebagian pendapatan untuk menutup biaya operasional yang membengkak.
“Wah berat sih kalau buat tambah naik lagi ya? Dalam kondisi sekarang saja sudah sulit banget gitu ekonomi kita. Kalau sebagai Ojol kan BBM itu ya utama ya, buat kita keliling-keliling mencari penumpang segala macam,” kata Irfan, salah satu pengemudi ojol saat ditemui ReportaseNews di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026).
Ia menambahkan, peningkatan biaya BBM akan berdampak pada pengeluaran rumah tangga. “Berarti dari segi penghasilan juga harus ada yang dikurangi, seperti yang tadinya harus buat BBM segini jadi bertambah. Nah otomatis seperti kebutuhan rumah tangga yang segala macam itu otomatis dialihkan ke BBM kan, jadi berkurang,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan pengemudi lainnya. Fian mengatakan kenaikan harga Pertamax akan langsung menggerus pendapatan bersih. “Ya agak berat ya, penghasilan kita pasti juga akan berkurang. Kalau naik ya berat juga, pengeluaran juga buat bensin juga,” ucapnya.
Ia menilai dampak kenaikan BBM akan terasa pada pengeluaran harian. “Dampaknya ya ke pengeluaran kita sehari-hari. Pengeluaran juga kan jadi bertambah,” lanjut Fian.
Sementara itu, pengemudi bernama Tatang menilai kenaikan BBM biasanya diikuti lonjakan harga kebutuhan pokok. “Kalau bisa janganlah, kasihan ama para ojol-ojol gitu. Dampaknya ya mungkin semuanya, BBM itu naik ya semuanya pada naik, pasti. Seperti sembako, terus makanan pokok, semuanya lah,” katanya.
Menurutnya, kebijakan penyesuaian tarif dapat menjadi solusi apabila kenaikan harga BBM tetap diberlakukan. “Kalau misalkan argonya naik, ya nggak masalah gitu. Tapi kalau bisa sih janganlah,” tambahnya.
Di sisi lain, rencana kenaikan harga BBM non-subsidi sempat viral di media sosial. Beredar informasi harga Pertamax berpotensi naik hingga Rp17.850 per liter mulai 1 April 2026. Namun angka tersebut belum dipastikan secara resmi.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membenarkan adanya rencana penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Meski demikian, besaran kenaikan belum diumumkan secara final.
Penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Produk BBM non-subsidi yang dipasarkan oleh Pertamina biasanya mengalami perubahan harga setiap awal bulan.
Para pengemudi ojol berharap pemerintah mempertimbangkan dampak terhadap pekerja sektor informal. Mereka juga meminta kebijakan yang tidak memberatkan agar daya beli tetap terjaga dan pendapatan harian tidak semakin tertekan. (RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar