Bupati Tapsel Jenguk Tuti Daulay, Soroti Akses Jalan Rusak
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu menjenguk Tuti Daulay, ibu hamil yang viral ditandu warga sejauh 30 kilometer hingga bayinya meninggal saat persalinan. (Foto: ReportaseNews/Angga)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tapanuli Selatan, ReportaseNews – Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, mendatangi Tuti Daulay, ibu hamil yang viral karena harus ditandu warga sejauh 30 kilometer untuk mendapatkan pertolongan medis saat hendak melahirkan.
Tuti Daulay diketahui merupakan warga Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Peristiwa memilukan itu terjadi pada Sabtu (9/5/2026). Warga secara bergotong royong menandu Tuti melewati medan berat menuju RSUD Sipirok. Namun, sesampainya di rumah sakit, bayi yang dikandung Tuti dinyatakan tidak dapat diselamatkan.
Saat ini, Tuti masih menjalani pemulihan dan tinggal sementara di rumah kerabatnya di kawasan Pinang Nabaris, Sipirok.
Gus Irawan menemui langsung Tuti pada Selasa (12/5/2026) siang. Dalam kunjungan itu, ia mengaku memahami beratnya kondisi geografis di wilayah tempat tinggal korban.
”Kami memang mengerti situasi di sana sangat berat. Karena itu, untuk program TMMD 2025 sudah diajukan. Desa Dalihan Natolu ini berada di kawasan hutan lindung, sehingga kami tidak punya kewenangan,” ujar Gus Irawan, Selasa (12/5/2026).
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan sebelumnya telah mengusulkan pembukaan akses jalan melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dan Karya Bhakti.
Menurut dia, pembangunan jalan terkendala izin kawasan hutan lindung sehingga rencana tersebut belum dapat direalisasikan.
”Dengan program TMMD dan Karya Bhakti. 2025 sudah kami rencanakan dan memohon izin ke kehutanan, tapi tidak diberi izin, sehingga program ini tertunda,” katanya.
Gus Irawan juga mengakui medan menuju Desa Dalihan Natolu merupakan salah satu yang paling sulit dijangkau di wilayah Tapanuli Selatan. Kondisi jalan yang minim akses aspal membuat mobilitas warga sangat terbatas.
”Yang paling berat medannya itu adalah Desa Dalihan Natolu. Di samping memang medannya yang berat. Saya terus terang belum pernah ke sana. Makanya setelah dari sini, saya akan pergi ke sana untuk melihat situasi dan faktanya,” ujarnya.
Selain akses jalan yang buruk, fasilitas kesehatan di Dusun Aek Nabara juga disebut sangat minim. Keterbatasan layanan kesehatan dan tenaga medis menjadi salah satu penyebab warga harus membawa pasien secara manual menuju rumah sakit.
Menanggapi kondisi tersebut, Gus Irawan mengatakan pemerintah daerah telah menambah 15 pos kesehatan desa di sejumlah wilayah Tapanuli Selatan.
”Misalnya di sana pun kami buat pos kesehatan, pasti terbatas dan dirujuk ke rumah sakit. Nah, konektivitasnya yang paling utama. Karena selama ini masyarakat yang keluar dari sana dengan berjalan kaki,” katanya.
Kasus yang dialami Tuti Daulay kini menjadi sorotan publik dan memunculkan desakan agar pemerintah segera memperbaiki akses infrastruktur serta layanan kesehatan di daerah terpencil Tapanuli Selatan. (Ang)
- Penulis: Angga
- Editor: Ullifna Tamama




Saat ini belum ada komentar