Warga Korban Konflik di Adonara Kecewa Belum Pernah Dapat Bantuan dan Dikunjungi Bupati
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kupang, ReportaseNews – Korban bentrokan di Pulau Adonara, Flores Timur, NTT meminta agar pemerintah daerah hadir untuk melihat langsung kondisi warga yang menjadi korban akibat bentrokan antar warga yang mengakibatkan puluhan rumah dibakar.
Hal tersebut disampaikan Abubakar Doni dan istrinya, Esti Juliana yang menjadi korban akibat rumahnya habis dibakar saat terjadi bentrokan antara warga Desa Nara Saosina dan Weburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur NTT.
Betrokan antar warga dua desa tersebut terjadi sebanyak tiga kali yang yakni pada 6 Maret, 9 dan 10 Mei 2026 dan mengakibatkan sekitar 50 rumah dibakar.
Menurut Abubakar, mereka menjadi korban pembakaran saat terjadi konflik pada 6 Maret 2026 lalu. Namun hingga sekarang belum ada bantuan dari pemerintah daerah.
“Sampai sekarang tidak ada bantuan apapun dari pemerintah daerah, Padahal kami susah, belum ada (bantuan sama sekali) karena rumah dan semua barang hangus, tempat usaha juga hangus semua,” kata Abubakar kepada ReportaseNews.com di Adonara, Sabtu (30/5) siang.
Dia mengatakan bantuan baru diperoleh dari Pemerintah Desa setempat dan dari susteran berupa beras. Sedangkan dari Pemda Flores Timur belum ada sama sekali.
Abubakar dan istrinya juga mengaku kecewa belum pernah dikunjungi atau ditemui oleh Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen pasca terjadinya bentrokan.
“Bupati belum pernah (datang) dia ketemu dengan kami, malahan didalam medsos itu dia (bupati) bilang saya bukan suruh kamu perang,” kata Abubakar menyampaikan kekecewaannya.
Begitupun dengan istrinya Esti Juliana menyampaikan kekecewaan terhadap pemerintah daerah dan Bupati Flores Timur. Esti mengaku sudah putus asa setelah melihat postingan di media sosial pernyataan dari Bupati Flores Timur.
“Bahkan kami sudah putus asa begitu, karena dalam kami lihat (isi) sosmed itu (disampaikan bupati) bukan urusan kami, kalian yang perang masa kami pemerintah yang tanggung,” kata Esti menunjukkan kekecewaannya.
Padahal kata pasutri ini mereka yang diserang, dan mereka tidak dalam keadaan perang. Sehingga keduanya sangat kecewa dengan pernyataan bupati.
Abubakar mengatakan saat rumahnya dibakar massa saat terjadi bentrokan tidak ada satu pun barang yang bisa diselamatkan. Dia dan istrinya menyelamatkan diri dengan pakaian yang menempel di badan.
“Saya dan istri ketakutan, makanya lari dengan pakaian di badan saja, tidak ada barang yang kita bawa yang penting bisa selamat,” jelasnya sambil meneteskan airmata.
Diceritakannya sebelum membakar, terdengar suara letusan besar di halaman depan rumah mereka. Dan karena takut dia dan istrinya melarikan diri melalui pintu belakang.
Setelah itu dia tidak tahu lagi apa yang terjadi. Dan massa yang datang menggunakan penutup wajah sehingga mereka tidak mengenali para pelaku dan sangat banyak.
“Mereka datang sangat banyak, pakai tutup muka, makanya tidak bisa kenal satupun juga,” ujarnya.
“Saya ni pegang apapun tidak ada, apapun kami tidak bawa sama sekali, hanya saya pegang saya punya hp dan dia (istri) pegang dia punya hp,” jelas Abubakar.
Keduanya mengaku setelah rumahnya dibakar mereka dibantu oleh seorang kerabat yang mau menampung mereka dengan kondisi seadanya.
Saat ini kata Abubakar, mereka sudah merasa tenang dengan kehadiran aparat kepolisian baik dari Polres Flores Timur maupun Brimob yang sudah bisa membuat situasi menjadi kondusif.
“Terimakasih pihak kepolisian karena hampir tiap hari itu mereka ada disini sama brimob dan brimob yang (buat) kami ada kenyamaman itu mereka ada di sini, kalau tiada polisi, brimob begitu bagaimana kita ini tidak buat apa-apa,” kata Jamaludin dan istrinya Esti Juliana.
Pasangan suami istri yang harus kehilangan rumah dan toko sebagai tempat usaha ini juga mengaku sangat trauma. Tapi beruntung ada polisi dan brimob sehingga bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Saosina, Jamaludin Jou Dadi. Menurutnya pasca terjadinya bentrokan belum pernah dikunjungi oleh Bupati Flores Timur untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang menjadi korban.
“Sejak konflik tanggal 6 Maret dan 9 Mei itu, pemda belum turun untuk menyambangi masyarakat, pak bupati sendiri juga belum pernah hanya pak Kapolres jajaran kepolisian kabag ops, pak Kapolsek, Pak Kasat brimob itu mereka turun menyambangi warga, tapi pak bupati atau pemda belum turun sampai saat ini,” ujar Jamaludin.
Dia pun menyampaikan harapan agat bupati bisa datang dan menyambangi warga korban konflik dan juga melakukan rekonsiliasi.
Dan itu sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dari kedua belah pihak yang berkonflik. Sehingga diharapkan dengan didatangi bupati bisa menyejukan suasan sehingga proses rekonsiliasi cepat berjalan.
“Harapan kami tentu sebagai pemimpin di kabupaten kami berharap beliau (bupati) turun dan menyambangi artinya sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat kedua belah pihak yang sedang berkonflik sehingga berharap dengan turunnya pemimpin bisa menyejukan suasana sehingga proses rekonsiliasi cepat berjalan,” kata Jamaludin.
Terpisah, tokoh masyarakat Desa Narasaosina, Dominikus Daton menyampaikan terimakasih kepada pihak kepolisian khususnya Kapolres Flores Timur, AKBP. Adhitua Octorio Putra dan Kapolda NTT, Irjen Pol. RUdi Damoko yang telah berhasil meredam konflik sosial antara Desa Weburak dan Narasaosina yang terjadi 9 Mei 2026 lalu.
Dia juga meminta agar Bupati Flores Timur sebagai kepala daerah bisa datang ke lokasi konflik untuk melihat kondisi warga yang menjadi korban.
“Selama ini sejak pasca kejadian (bentrokan) kami istilahkan bencana sosial, pembakaran dan pengrusakan dari 6 Maret sampai dengan hari ini kami berharap pak Bupati, pihak pemda turun melihat rakyat sedikit,” kata Dominikus.
Dia mengaku sejak pecah konflik sosial antara warga Desa Weburak dan Narasaosina Bupati Flores Timur tidak pernah menyambangi warga yang menjadi korban bentrokan. Yang datang hanyalah wakil bupati.
“(Bupati) tidak pernah turun (ke lokasi konflik), kara Dominikus Waton yang juga sebagai ketua Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Narasaosina.
Disampaikannya yang selalu datang untuk mengunjungi warga pasca kejadian hanya Kapolres, Dandim dan Wakil Bupati. Tapi bupati sama sekali tidak pernah hadir.
Padahal lanjut dia yang dibutuhkan adalah kehadiran bupati untuk bisa melancarkan proses rekonsiliasi yang akan beberapa waktu ke depan untuk.mendamaikan kedua kelompok warga yang bertikai.
Konflik sosial yang melibatkan warga dua desa yakni Desa Weburak dan Narasosina di Kecamatan Adonara Timur yang terjadi pada 6 Maret 2026 dan berlanjut pada 9 dan 10 .ei 2026 tersebut dipicu masalah sengketa lahan.
Akibat bentrokan tersebut ada 50 rumah yang dibakar. Dan saat berkonflik massa pun menggunakan sepira dan sajam untuk saling menyerang. Sejauh ini tidak ada korban luka atau meninggal dari tiga kali konflik tersebut.
Kapolres Flores Timur, AKBP. Adhitya Octorio Putra mengklaim, saat ini situasi keamanam pasca terjadinya konflik sudah kondusif.
Aktifitas masyarakat juga sudah kembali normal. Namun demikian, petugas brimob dan Polres Flotim yang masih melakukan pengamanan di lokasi konflik untuk mencegah terjadinya konflik susulan.
Pasca bentrokan juga, polisi berhasil mengamankan 863 senjata api rakitan, semjata tajam, amunisi, anak panah dan busur panah.
Ratusan senjata api rakitan dan senjata tajam tersebut diserahkan secara sukarela oleh warga sejak dua pekan lalu. (RN-04).
- Penulis: Didik




Saat ini belum ada komentar