Harga LPG Melonjak, Dapur Rakyat Kembali Berasap
- calendar_month 30 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyumas, ReportaseNews – Kenaikan harga LPG 12 kilogram tak sekadar angka dalam kebijakan energi. Di baliknya, ada dapur-dapur rakyat yang kembali mengepul, memaksa sebagian warga beradaptasi dengan cara lama demi bertahan hidup. Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, fenomena ini mulai nyata terasa – warga beralih ke kayu bakar untuk menekan biaya produksi, terutama pelaku usaha rumahan makanan tradisional.
Di Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan, Sangidah, seorang ibu rumah tangga, menjadi potret nyata dari perjuangan itu. Di dapur sederhananya, asap dari tungku kayu mengepul setiap hari, menjadi saksi kerasnya realitas ekonomi yang dihadapinya.
Bagi Sangidah, pilihan menggunakan kayu bakar bukan sekadar soal tradisi, tetapi soal bertahan. Ia tetap memproduksi ketan dan jadah – makanan berbahan dasar beras ketan – yang menjadi sumber penghasilan keluarganya.
“Masaknya lebih enak pakai kayu bakar daripada gas. Kalau gas mahal, ya kasihan juga. Sekarang cari kerja susah, gaji juga nggak naik, jadi harus ngirit,” tuturnya lirih.
Kayu bakar yang ia gunakan diperoleh dari lingkungan sekitar – kadang membeli, kadang mencari sendiri dari potongan kayu. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan satu ikat kayu, tergantung jumlah pesanan yang datang.
Produksi yang dijalankan pun tidak menentu, hanya berdasarkan pesanan. Namun satu hal yang pasti: biaya bahan bakar menjadi beban yang tak bisa diabaikan.
Di tengah ketidakpastian itu, dapur Sangidah tetap menyala. Asap yang membumbung bukan hanya pertanda aktivitas memasak, tetapi juga simbol daya tahan masyarakat kecil menghadapi tekanan ekonomi.
Fenomena serupa juga tercermin di tingkat distribusi energi. Di wilayah Pamijen, Sokaraja, pergeseran konsumsi masyarakat terlihat jelas di pangkalan LPG. Torih Mustolih, pemilik pangkalan, mengungkapkan bahwa minat terhadap LPG 12 kilogram kini merosot tajam.
“Kalau dibandingkan, yang 3 kilo lebih banyak peminatnya daripada yang 12 kilo. Yang 12 kilo kurang laku,” ujarnya.
Dalam sehari, penjualan LPG 3 kilogram bahkan bisa mencapai ratusan tabung – jauh melampaui LPG 12 kilogram yang kini semakin ditinggalkan. Kondisi ini menjadi cerminan perubahan pola konsumsi energi masyarakat, khususnya kalangan ekonomi menengah ke bawah yang dipaksa beradaptasi dengan keterbatasan.
Kenaikan harga LPG non-subsidi tak hanya berdampak pada pilihan bahan bakar, tetapi juga menggambarkan tekanan ekonomi yang masih membayangi kehidupan masyarakat. Kebijakan energi, yang mungkin terasa jauh di tingkat pusat, nyatanya berimbas langsung hingga ke dapur-dapur sederhana.
Di Banyumas, asap kayu bakar kini bukan sekadar tradisi yang kembali hidup. Ia adalah tanda zaman—bahwa di tengah mahalnya energi, masyarakat kecil terus berjuang menjaga api kehidupan tetap menyala.(Kus/RN-04)
- Penulis: Didik



Saat ini belum ada komentar