Jejak Rindu di Jalan Kalimantan: Dari Durian Ngarak hingga Air Terjun Tujuh Tingkat Sembora (Bagian 2)
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Petualangan Asa 1. (Dok. ReportaseNews)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ReportaseNews – Perut saya sudah terasa penuh setelah menghabiskan satu buah durian berukuran besar di pinggir jalan Desa Ngarak. Durian lokal Kalimantan yang legit dengan sentuhan rasa pahit-manis itu benar-benar memuaskan kerinduan yang telah lama tersimpan.
Bapak Doni (42), penjual durian yang sedari tadi memperhatikan saya melahap buah berduri itu seorang diri, hanya tersenyum sambil sesekali menggelengkan kepala. Di sisi kiri dan kanan sepeda motornya, keranjang penuh durian masih tergantung menunggu pembeli berikutnya.
Dari Ngarak, perjalanan berlanjut menuju Mandor. Ada alasan lain yang membuat perjalanan ini terasa istimewa. Lebih dari dua puluh tahun saya tidak berjumpa dengan seorang sahabat lama, Mujiman, teman seperjuangan semasa kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Pontianak.
Kami bertemu di sebuah warung kopi di depan Bukit Soeharto.
Warkop itu sederhana namun eksotis, bernuansa rumah panjang khas Dayak. Saat saya datang, seorang pelayan muda menyambut dengan senyum ramah.
“Pesan apa, Om?” tanyanya.
Tak lama kemudian, secangkir kopi hitam tanpa saring tersaji di atas meja. Di bawah langit Mandor yang siangnya tidak terlalu menyengat, kami larut dalam cerita-cerita lama.
Tentang masa kuliah, masa perjuangan, dan mimpi-mimpi yang dulu terasa begitu dekat.
Waktu rupanya berjalan sangat cepat. Kami yang dahulu bertubuh tegap dengan kulit legam terbakar matahari kini mulai dimakan usia.
Rambut memutih, gigi mulai tanggal satu per satu, dan kerutan halus menjadi saksi perjalanan hidup yang tak selalu mudah. Namun kehangatan persahabatan tetap sama seperti puluhan tahun lalu.
Menjelang waktu Zuhur, saya berpamitan sejenak untuk menunaikan salat di masjid besar Kota Mandor yang baru selesai dipugar. Bangunannya megah dan menjadi ikon baru kota kecil itu. Menariknya, tepat di hadapannya berdiri sebuah gereja besar yang tak kalah megah.
Dua rumah ibadah berbeda keyakinan berdiri berdampingan, menghadirkan pemandangan tentang harmoni dan toleransi yang terasa begitu alami di tanah Kalimantan.
Usai salat, saya kembali ke warung kopi dengan sepeda motor dinas yang digunakan Mujiman, berpelat merah bertuliskan KPH Landak. Kini sahabat lama itu telah menjadi Aparatur Sipil Negara yang bertugas di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH). Di balik wajahnya yang terlihat sangar, Mujiman adalah sosok pekerja keras, ramah, sekaligus kepala keluarga yang mengabdikan hidupnya untuk istri dan ketiga anaknya.
Dari Mandor, ia mengajak saya menuju rumahnya di Desa Sembora. Perjalanan hanya beberapa menit. Desa yang tenang itu dikelilingi hamparan sawah hijau, perbukitan, dan udara pedesaan yang masih segar.
Kedatangan saya disambut hangat oleh keluarganya. Dan seolah semesta sedang berpihak kepada pencinta durian, saya kembali disuguhi buah yang sejak pagi menjadi tujuan perjalanan ini.
Durian-durian itu baru saja dibawa dari kawasan hutan sekitar Sembora. Anak sulung Mujiman ikut dalam tradisi yang akrab dikenal masyarakat setempat sebagai “nyatuh durian”, menunggu buah jatuh langsung dari pohonnya di tengah hutan.
Satu per satu buah dibelah.
Tanpa banyak basa-basi, saya menghabiskan tiga buah durian. Mujiman hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala.
“Gila nih orang, makan durian tiga buah,” gumamnya.
Tawa kami pecah di teras rumah sederhana itu, ditemani secangkir kopi hangat dan suasana kekeluargaan yang membuat saya merasa seperti pulang ke rumah sendiri.

Petualangan Asa 2 (dok. ReportaseNews)
Menjelang sore, Mujiman mengajak saya melihat salah satu kebanggaan Desa Sembora: Riam (air terjun) Sembora.
Air terjun yang berada di kawasan Bukit Raya ini dikenal memiliki tujuh tingkatan. Perjalanan menuju lokasi menyuguhkan panorama pedesaan yang memanjakan mata.
Hamparan sawah hijau membentang luas, diselingi perkebunan kelapa sawit dan perbukitan yang bergelombang.
Di salah satu puncak bukit tampak area terbuka berwarna kekuningan tanpa vegetasi. Mujiman menjelaskan bahwa lokasi tersebut kini dimanfaatkan sebagai arena paralayang yang menawarkan pemandangan spektakuler dari ketinggian.
Dari Pontianak, Desa Sembora dapat ditempuh sekitar 92 kilometer. Sementara dari pusat desa menuju Riam Sembora berjarak sekitar dua kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih dua puluh menit menggunakan kendaraan bermotor.
Jalan yang dilalui sebagian sudah beraspal, meski beberapa titik masih berupa tanah kuning yang menanjak dan melintasi anak-anak sungai kecil.
Di balik keindahan alamnya, Sembora juga dikenal sebagai tempat tinggal tokoh adat Dayak yang cukup disegani, yaitu Panglima Jilah. Nama yang tidak asing bagi masyarakat Kalimantan Barat karena kiprahnya dalam menjaga adat, budaya, dan kehormatan masyarakat Dayak.
Sore mulai turun perlahan ketika suara air terjun terdengar dari kejauhan. Setelah tiga tahun vakum dari dunia motoran, saya menemukan kembali apa yang selama ini dirindukan: jalan yang panjang, sahabat lama, keramahan desa, secangkir kopi hitam, dan durian yang jatuh langsung dari hutan Kalimantan.
(*/RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar