AS Panik Ultimatum Iran: Serius Berunding atau Hadapi Konsekuensi
- calendar_month 29 menit yang lalu
- print Cetak

Menlu AS, Marco Rubio menegaskan AS masih membuka jalur diplomasi dengan Iran, namun memperingatkan Teheran akan menghadapi konsekuensi jika tidak serius dalam perundingan. (Foto: Anadolu)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Washington, ReportaseNews – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menegaskan Washington masih mengedepankan jalur diplomasi untuk menyelesaikan ketegangan dengan Iran. Meski demikian, ia menilai Teheran belum menunjukkan komitmen yang kuat dalam proses perundingan.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio saat menghadiri pertemuan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Manila, Filipina, Rabu. Ia menegaskan bahwa pemerintah AS tetap membuka ruang dialog selama Iran benar-benar menunjukkan keseriusan.
”Amerika Serikat selalu berkomitmen pada diplomasi. Kami berpikiran terbuka dan selalu bersedia menyelesaikan perbedaan melalui perundingan, dan hal itu juga berlaku dalam kasus Iran,” kata Rubio, dilansir dari Anadolu, Rabu (22/7/2026).
Menurut Rubio, komunikasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung, baik secara langsung maupun melalui jalur tidak langsung. Namun, hingga kini pemerintah AS belum melihat langkah konkret dari Iran untuk mencapai kesepakatan.
”Masalah yang kami hadapi saat ini adalah mereka tidak serius dalam pembicaraan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Amerika Serikat siap melanjutkan proses diplomasi apabila Iran menunjukkan itikad baik. Sebaliknya, Washington tidak akan ragu mengambil tindakan demi menjaga keamanan nasional dan melindungi negara-negara sekutunya.
”Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan juga kepentingan sekutu kami,” tegas Rubio.
Selain menyinggung proses negosiasi, Rubio juga menyoroti pentingnya menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Menurutnya, jalur strategis tersebut tidak boleh berada di bawah kendali sepihak negara mana pun.
”Jika kita menciptakan preseden di Timur Tengah di mana suatu negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional, memungut biaya, dan menghancurkan kapal jika tidak membayar, maka kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya yang dapat terulang di kawasan lain di dunia, termasuk di kawasan ini,” katanya.
Rubio kembali menegaskan bahwa pemerintah AS tetap mengutamakan penyelesaian melalui dialog yang konstruktif. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai harus dipatuhi oleh seluruh pihak.
”Amerika Serikat tetap terbuka dan bersedia melakukan negosiasi serta pembicaraan yang positif dan konstruktif, selama komitmen yang telah disepakati dipenuhi. Jika komitmen itu tidak dipenuhi, seperti yang terjadi dalam kasus ini, maka akan ada konsekuensinya, dan itu memang harus terjadi,” ujarnya.
Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada Februari lalu. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menyasar sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Meski kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk meredakan konflik dan membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang, situasi kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir akibat eskalasi di kawasan Selat Hormuz.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengungkapkan bahwa militernya telah melancarkan serangan terhadap Iran selama 11 malam berturut-turut hingga Selasa.
Berdasarkan data Departemen Pertahanan AS, sejak operasi militer dimulai pada 28 Februari, sebanyak 18 personel militer Amerika Serikat dilaporkan tewas, sementara 447 lainnya mengalami luka-luka akibat konflik yang masih berlangsung.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar