HWPL Ajak Jurnalis dan Masyarakat Jadi Relawan Perdamaian di Indonesia
- calendar_month 18 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Heavenly Culture World Peace and Restoration of Light (HWPL) membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat, jurnalis media, akademisi, dan berbagai kelompok untuk memperkuat budaya perdamaian di Indonesia. Ajakan tersebut disampaikan perwakilan HWPL, Meily, dalam pertemuan bersama relawan dan jurnalis bidang media di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
Meily mengatakan, jurnalis media memiliki peran strategis dalam memperluas pesan perdamaian hingga ke tingkat lokal.
“Hari ini kami mengumpulkan relawan-relawan dan jurnalis dari bidang media supaya kita bisa sama-sama bergerak untuk menciptakan perdamaian di daerah lokal masing-masing dan akhirnya di Indonesia,” ujar Meily.
Menurut dia, perdamaian bukan hanya menjadi tanggung jawab organisasi atau relawan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
HWPL Buka Kolaborasi Kemanusiaan dan HAM. Meily mengatakan HWPL terbuka untuk berkolaborasi dalam berbagai isu, termasuk kemanusiaan, kebebasan pers, perdamaian, pendidikan, dan hak asasi manusia (HAM).
HWPL merupakan organisasi non-profit dan non-pemerintah yang berbasis di Korea Selatan. Organisasi ini dipimpin Lee Man Hee, yang menurut Meily memiliki pengalaman sebagai veteran Perang Korea.
Pengalaman tersebut, lanjut Meily, menjadi salah satu latar belakang perjuangan Lee Man Hee dalam mendorong perdamaian dunia.
“Perdamaian itu bukan hanya berhenti perang atau ketika suara tembakan berhenti. Ketidaksejahteraan juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan,” katanya.
Menurutnya, dampak konflik tidak hanya berupa korban jiwa, tetapi juga dapat mengganggu masa depan perempuan, generasi muda, serta kesejahteraan masyarakat.
Pendidikan Jadi Bagian Gerakan Perdamaian.
Di Indonesia, program HWPL telah diperkenalkan sejak sebelum 2018. Sejumlah kegiatan dilakukan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah.
Program tersebut antara lain pendidikan perdamaian bagi pelajar, kegiatan kerelawanan, donor darah, serta berbagai pelatihan. HWPL juga mengembangkan kegiatan yang melibatkan bidang keagamaan, pendidikan perdamaian, dan para pakar hukum.
Meily menilai jurnalis media dapat menjadi salah satu penggerak penting dalam membangun budaya perdamaian karena mampu menjangkau masyarakat secara luas.
“Peran jurnalis media di sini adalah menyuarakan bagaimana perdamaian itu ternyata lebih dalam daripada hanya tidak adanya peperangan,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat dan kelompok di Indonesia terlibat dalam gerakan tersebut. Dialog dan kolaborasi, kata dia, diperlukan untuk membangun harmonisasi di tengah keberagaman masyarakat.
Meily juga menyoroti masih adanya konflik di sejumlah daerah yang berkaitan dengan persoalan agama. Karena itu, semangat Bhinneka Tunggal Ika dinilai perlu terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Perdamaian bukan hanya tentang tidak adanya peperangan, tetapi bagaimana masyarakat dapat hidup berdampingan, saling menghargai, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
- Penulis: Didik




Saat ini belum ada komentar