IRGC Bersumpah Balas Dendam, Kematian Khamenei Jadi Momen Perlawanan Iran
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: Khamenei.ir)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, ReportaseNews – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan keras menyusul konfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Minggu (1/3/2026). Alih-alih menunjukkan kelemahan pasca-serangan udara yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat, militer elite Teheran justru menegaskan kematian sang pemimpin akan memicu gelombang pembalasan yang tidak akan terelakkan bagi para pelaku.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui kantor berita Fars, IRGC menggambarkan serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) pagi tersebut sebagai tindakan pengecut dari musuh-musuh kemanusiaan. Penegasan ini muncul setelah media pemerintah Iran menyiarkan momen emosional saat presenter televisi nasional menangis saat mengumumkan wafatnya Khamenei, yang disebut gugur sebagai martir bersama beberapa anggota keluarganya, termasuk anak dan cucu perempuannya.
Kehilangan sosok yang telah memimpin Republik Islam sejak 1989 ini diakui sebagai pukulan besar. Namun, IRGC mengeklaim pengorbanan Khamenei justru memperkuat legitimasi perjuangan mereka melawan hegemoni Barat di Timur Tengah. Pernyataan tersebut sekaligus merespons klaim kemenangan yang sebelumnya disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump dan pejabat militer Israel terkait keberhasilan operasi mereka.
Sumpah Pembalasan Tanpa Ampun
Ketegangan di kawasan kini berada pada titik didih tertinggi setelah IRGC secara eksplisit mengancam akan melakukan tindakan balasan. Mereka menekankan bahwa infrastruktur pertahanan Iran tetap solid dan siap menghadapi segala bentuk infiltrasi maupun serangan lanjutan yang mungkin terjadi selama masa duka 40 hari kedepan.
“Kita telah kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya. Namun, kemartiran Khamenei di tangan teroris paling kejam dan algojo kemanusiaan adalah tanda legitimasi pemimpin besar ini dan penerimaan atas pengabdiannya yang tulus,” demikian pernyataan resmi IRGC sebagaimana dikutip dari Aljazeera.
Pihak Garda Revolusi juga mengirimkan pesan peringatan kepada Washington dan Tel Aviv bahwa operasi militer tersebut tidak akan berakhir tanpa konsekuensi serius. Mereka menginstruksikan seluruh unit tempur untuk bersiap dalam posisi siaga tertinggi guna menjaga kedaulatan negara dari konspirasi yang datang dari dalam maupun luar negeri.
“Tangan pembalasan bangsa Iran tidak akan membiarkan mereka lolos. IRGC akan berdiri tegas dalam menghadapi konspirasi domestik dan asing,” tambah pernyataan tersebut dengan nada mengancam.
Langkah IRGC selanjutnya kini menjadi sorotan dunia, mengingat posisi mereka sebagai pemegang kendali utama atas program rudal dan operasi regional Iran. Dengan wafatnya Khamenei, dunia internasional kini mengamati apakah retorika “balas dendam” ini akan segera terwujud dalam aksi militer nyata yang dapat mengubah peta konflik di Timur Tengah secara permanen. (RN-03)
- Penulis: Saparuddin Siregar


Saat ini belum ada komentar