IHSG Menguat Tipis, Ancaman Global dan Rupiah Melemah Bayangi Pasar
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak

IHSG dibuka menguat ke 7.158,51, namun sentimen global, pelemahan rupiah, dan risiko inflasi membayangi pergerakan pasar. (IDX)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin dengan kenaikan terbatas. Pada sesi pembukaan, indeks tercatat naik 29,02 poin atau 0,41 persen ke level 7.158,51.
Kenaikan ini terjadi setelah IHSG ditutup di posisi 7.129 pada akhir pekan lalu, di tengah tekanan eksternal dan domestik yang masih membayangi pergerakan pasar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek cenderung bergerak campuran dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah.
Tekanan tersebut dipicu oleh sentimen global yang mendorong pelaku pasar mengambil sikap hati-hati, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan potensi arus keluar modal asing.
Secara teknikal, IHSG saat ini berada di area jenuh jual (oversold) setelah menutup celah harga pada kisaran 7.308–7.346. Kondisi ini membuka peluang terjadinya rebound jangka pendek, meski ruang penguatan dinilai terbatas.
”Fokus pasar kini tertuju pada pengujian support krusial di rentang 7.100-7.150. Apabila level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup gap berikutnya di area 7.022-7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917,” ujar Brigita seperti dikutip Antara, Senin (27/4/2026).
Dari sisi global, belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran memperpanjang ketidakpastian geopolitik, khususnya di sektor energi.
Pasar mulai mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi global yang dapat menjaga harga tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan laju penurunan inflasi serta membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek.
Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat juga kembali mengarah lebih ketat seiring tekanan inflasi berbasis energi.
Secara keseluruhan, kondisi global mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang lebih aman, seperti dolar AS dan komoditas energi.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari pelemahan rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.315 per dolar AS.
Di sisi lain, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi sejak 18 April turut menjadi perhatian pasar. Kenaikan ini berpotensi mendorong inflasi jangka pendek, terutama pada sektor transportasi dan logistik.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut diperkirakan dapat menekan daya beli masyarakat serta margin sektor berbasis konsumsi.
Sementara itu, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 April 2026 memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.
”Kebijakan ini diiringi dengan intervensi di pasar valas serta optimalisasi instrumen moneter guna meredam volatilitas. Meski demikian, pelemahan rupiah tetap meningkatkan risiko imported inflation dan memperbesar potensi capital outflow, khususnya dari pasar obligasi,” kata Brigita.
Ia menambahkan, kombinasi kenaikan harga energi dan kebijakan moneter yang ketat mencerminkan sikap otoritas yang defensif dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Meski IHSG dibuka menguat, pelaku pasar diperkirakan masih akan bergerak hati-hati dalam jangka pendek.
”Ke depan, efektivitas respons kebijakan, terutama dalam menahan volatilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik serta keberlanjutan aliran dana asing,” ujarnya. (RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar