Kisah Calon Haji Termuda dari Madina yang Membawa Rindu Ayah dan Kecemasan Masa Depan
- calendar_month 6 menit yang lalu
- print Cetak

Muhammad Yunus (17), jamaah haji termuda asal Madina, berangkat ke Tanah Suci menggantikan almarhum ayahnya. (FOTO: STARTNEWS)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Madina, ReportaseNews – Muhammad Yunus berdiri tegak di antara ratusan jamaah calon haji asal Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang bersiap bertolak menuju Medan pada Minggu, 26 April 2026. Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, remaja asal Kecamatan Siabu ini menyandang status sebagai jamaah termuda dalam Kelompok Terbang (Kloter) 6.
Namun, di balik seragam batik haji yang dia kenakan, tersimpan sebuah amanah besar yang dia pikul di pundak mudanya. Sebuah perjalanan untuk menggenapi impian sang ayah yang telah tiada.
Keberangkatan Yunus bukan sekadar perjalanan spiritual biasa, melainkan sebuah misi pengganti. Dia melangkah menuju Baitullah bukan atas nama ambisi pribadi, melainkan untuk menunaikan kerinduan laki-laki yang paling dia cintai.
Didampingi sang ibu, Yusna, Yunus membawa serta doa-doa yang sempat tertunda akibat garis takdir yang memisahkan ayahnya dari dunia ini sebelum sempat melihat kakinya menginjakkan kaki di Tanah Haram.
“Ini pertama kali saya berangkat. Persiapannya sudah cukup, sudah ikut manasik juga. Saya menggantikan ayah,” ungkap Yunus dengan nada suara yang tenang tetapi sarat makna.
Dia telah menyiapkan diri secara fisik dan mental melalui rangkaian manasik, mencoba memahami setiap rukun ibadah yang kelak akan dia jalankan di bawah terik matahari Mekkah dan Madinah.
Meski rasa syukur meluap karena mendapat panggilan Allah di usia remaja, Yunus tidak menepis adanya kegelisahan yang membayangi pikirannya. Sebagai anak tunggal yang baru saja menyelesaikan pendidikan menengah, dia memikirkan bagaimana roda kehidupannya akan berputar sekembalinya dari Arab Saudi.
Status sebagai haji muda memberikan kebanggaan, tetapi realitas hidup sebagai yatim yang harus memikirkan kelanjutan pendidikan tetap menjadi beban pikiran yang nyata.
“Senang bisa berangkat di usia muda, tapi ada juga yang dipikirkan,” akunya jujur.
Dia mencemaskan biaya kuliah dan bagaimana dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk menopang kehidupannya bersama sang ibu pada masa depan.
Di Tanah Suci nanti, Yunus berencana mengetuk pintu langit dengan doa khusus, berharap agar jalannya meniti masa depan dipermudah dan dia mampu menjadi tulang punggung keluarga yang tangguh.
Di sisi lain, sang ibu, Yusna, tak kuasa menahan haru melihat putra tunggalnya berdiri di posisi yang seharusnya ditempati suaminya. Perjalanan menuju keberangkatan ini adalah buah kesabaran panjang selama tiga belas tahun.
Mereka telah mulai menyisihkan tabungan sedikit demi sedikit sejak tahun 2013, melewati masa tunggu yang melelahkan hingga akhirnya panggilan suci itu datang di saat yang tak terduga.
“Terharu, bahagia, semuanya bercampur. Kami sudah menabung sejak 2013, dan sekarang dipanggil. Semoga semua ibadah bisa kami jalankan, dan saya ingin mendoakan suami serta orang tua di sana,” tutur Yusna dengan suara bergetar menahan tangis bahagia.
Bagi Yunus, perjalanan ini pembuktian bakti seorang anak. Dia berjanji tidak akan sedetik pun melupakan ayahnya dalam setiap sujud di depan Ka’bah. Dia berharap keberangkatannya ini menjadi wasilah agar sang ayah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, sembari dia sendiri mencari kekuatan spiritual untuk menghadapi tantangan hidup sekembalinya ke Tanah Air nanti. (RN-03)
- Penulis: RN-03



Saat ini belum ada komentar