PM Spanyol Sanchez Tolak Serangan Iran, Trump Ancam Putus Perdagangan
- calendar_month Senin, 9 Mar 2026
- print Cetak

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menolak serangan AS ke Iran dan melarang penggunaan pangkalan militer di negaranya. Presiden AS Donald Trump merespons dengan ancaman pemutusan perdagangan. (Foto: Reuters/Francois Lenoir)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez secara tegas menolak mendukung serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Sikap tersebut memicu kemarahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang bahkan mengancam akan menghentikan hubungan perdagangan dengan Spanyol.
Di tengah sikap hati-hati sebagian pemimpin Eropa terhadap konflik tersebut, Sanchez justru secara terbuka mengkritik serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai tindakan itu berpotensi memicu konflik besar di kawasan Timur Tengah.
Dalam pidato yang disiarkan di televisi nasional, Sanchez menyampaikan pesan singkat namun tegas.
“Tidak untuk perang,” ujar Sanchez, seperti dikutip CNN, Minggu (8/3/2026).
Ia menilai serangan militer terhadap Iran sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab serta melanggar hukum internasional.
Sanchez juga menegaskan Spanyol tidak akan terlibat dalam kebijakan yang dianggap berbahaya bagi stabilitas global.
“Kami tidak akan menjadi bagian dari sesuatu yang buruk bagi dunia dan bertentangan dengan nilai serta kepentingan kami, hanya karena takut pada ancaman pembalasan dari seseorang,” kata Sanchez.
Sebagai bentuk sikap tersebut, pemerintah Spanyol melarang penggunaan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah selatan negaranya untuk mendukung serangan terhadap Iran. Pangkalan militer di Rota dan Moron selama ini menjadi fasilitas penting bagi operasi militer AS.
Keputusan itu memicu reaksi keras dari Presiden Donald Trump. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol.
Trump bahkan menyatakan Amerika Serikat tetap dapat menggunakan pangkalan militer tersebut tanpa izin pemerintah Spanyol.
“Kami bisa menggunakan pangkalan mereka jika kami mau. Kami bisa saja datang dan menggunakannya, tidak ada yang bisa melarang kami,” kata Trump.
Ketegangan meningkat setelah Gedung Putih mengklaim Spanyol akhirnya bersedia bekerja sama dengan militer AS. Namun pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Spanyol.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menegaskan posisi Madrid tidak berubah.
“Posisi kami mengenai perang di Timur Tengah dan pengeboman Iran, termasuk penggunaan pangkalan kami, sama sekali tidak berubah,” kata Albares.
Situasi ini juga menjadi tantangan baru bagi negara-negara Eropa dalam menyikapi kebijakan luar negeri pemerintahan Trump.
Selama setahun terakhir, sejumlah pemimpin Eropa berupaya menjaga hubungan dengan Washington melalui diplomasi dan kompromi, meskipun tetap menetapkan batas pada beberapa isu penting.
Sanchez sendiri dikenal kerap berbeda pendapat dengan Trump dalam berbagai isu, mulai dari kebijakan pertahanan NATO hingga hubungan dengan China.
Analis politik dari lembaga survei Ipsos, Paco Camas Garcia, menilai sikap keras Sanchez juga memiliki dimensi politik dalam negeri.
“Sanchez menggunakan kebijakan luar negeri untuk merebut kembali inisiatif politik di dalam negeri,” tulis Camas melalui media sosial X.
Menurutnya, panggung internasional memberi kesempatan bagi Sanchez untuk menunjukkan kepemimpinan sekaligus memperkuat dukungan bagi pemerintahan koalisinya yang dianggap rapuh. (RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar