Direktur RS Permata Madina Pilih Fokus Hadapi Somasi Keluarga Pasien RSH
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

RSH, pasien yang menjadi korban dugaan malapraktik, melalui kuasa hukum melayangkan somasi kepada RS Permata Madina, Senin (30/3/2026). (FOTO: ISTIMEWA)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Madina, ReportaseNews – Direktur Rumah Sakit Permata Madina Evan Doni mengaku saat ini fokus menghadapi somasi yang diterima pihaknya. Dia pun meminta diberikan waktu untuk konsentrasi menghadapi somasi tersebut.
“Saya kira sudah lengkap dan viral beritanya. Jadi, izinkan kami utk konsentrasi menghadapi somasi yg sudah kami terima,” kata Doni ketika dikonfirmasi pada Selasa (31/3/2026).
Doni pun menolak memberikan keterangan terkait adanya dua somasi yang mereka terima pada Senin (30/3/2026) kemarin. Dari lima kali konfirmasi, termasuk sejak RSH, pasien yang tangannya terpaksa diamputasi akibat pembengkakan setelah dirawat di RS Permata Madina, baru kali ini dia memberikan jawaban.
BERTIA TERKAIT : – Putri Wartawan Jadi Korban Dugaan Malapraktik RS Permata Madina, Tangannya Terpaksa Diamputasi
Untuk diketahui, keluarga RSH melayangkan somasi setelah mediasi beberapa kali tak berujung pada kesepakatan terhadap penanganan korban usai diamputasi. Ayah korban korban yang berprofesi sebagai wartawan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) merasa pihak rumah sakit tidak benar-benar menunjukkan iktikad baik.
RSH pada awalnya dibawa ke RS Permata Madina setelah jatuh di rumahnya. Diagnosa awal pasien mengalami masalah pada lambung dan menerima suntikan infus di tangan kiri. Pada prosesnya, tempat penyuntikan infus tersebut mengalami pembengkakan, sehingga terpakasa suntik dipindahkan ke tangan kanan.
Ternyata, bengkak tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda sembuh. Justru, di beberapa bagian tangan, utamanya jari-jari, menjadi lebam kehitam-hitaman. Melihat hal itu, orangtua RSH kembali membawa putrinya itu ke RS Permata Madina dan terpaksa harus melalui operasi.
Namun, kondisi tangan korban tidak membaik sehingga pihak rumah sakit memutuskan pasien harus dirujuk. Keluarga RSH memilih tempat rujuk ke RS dr. M. Djamil di Padang, Sumbar. Setelah melewati pemeriksaan, akhirnya diputuskan tangan kiri korban terpaksa diamputasi.
Lebam dan pembengkakan juga terjadi di tangan kanan, tapi kondisinya tidak separah di tangan kiri sehingga masih bisa diobati tanpa harus amputasi. Intinya, RSH masuk rumah sakit karena asam lambung, tapi keluar dengan tangan sudah dipotong.
- Penulis: Saparuddin Siregar



Saat ini belum ada komentar