Forum Lintas Generasi Temui KWI, Dorong Gerakan Moral dan “Komunitas Pengharapan”
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Sejumlah tokoh lintas generasi, sektor, dan profesi mendatangi pimpinan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Jakarta, Rabu (15/4/2026). Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya membangun gerakan moral berbasis nilai spiritual guna merespons dinamika kebangsaan yang dinilai semakin menjauh dari cita-cita awal pendirian negara.
Delegasi yang dipimpin Sudirman Said diterima langsung oleh Ketua KWI Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dan Antonius Subianto Bunjamin beserta jajaran. Dialog berlangsung hangat dengan fokus pada penguatan nilai moral, spiritualitas, dan ideologi bernegara.
Sudirman menegaskan, pertemuan tersebut merupakan ikhtiar mengorganisasi harapan publik agar dapat diubah menjadi gerakan perubahan yang berlandaskan moralitas dan nilai ketuhanan.
“Selain moralitas, yang tengah hilang dalam suasana bernegara saat ini adalah spiritualitas dan ideologi bernegara,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketiga aspek tersebut harus ditopang oleh keluhuran nilai (virtue) dan penegakan hukum (law). Menurutnya, keluhuran akan membimbing perilaku pemimpin, sementara hukum berfungsi mendisiplinkan penyelenggara negara dan masyarakat.
Sorotan Krisis Moral dan Tata Kelola
Benang merah diskusi dirangkai oleh Yanuar Nugroho yang menyoroti peran otoritas moral dalam menjaga kejernihan nurani publik di tengah kaburnya batas antara kebenaran dan kepentingan.
“Krisis sosial tidak terlepas dari krisis moral. Ketidakadilan struktural terjadi karena kegagalan dalam pilihan etis,” ujarnya.
Sementara itu, pakar hukum Feri Amsari mengkritik praktik kekuasaan yang dinilai kerap menyimpang dari konstitusi.
“Konstitusi bilang A, yang dilakukan presiden adalah Z. Aturan disetel sesuai kepentingan,” tegasnya.
Dari kalangan dunia usaha, Anton Supit menyoroti bahaya inkompetensi dalam pengambilan kebijakan. Ia menyebut kondisi ekonomi saat ini diwarnai empat defisit, yakni lapangan kerja, investasi, fiskal, dan kepercayaan (trust deficit).
“Inkompetensi itu lebih berbahaya daripada kejahatan,” tandasnya.
Kritik Lintas Sektor
Sejumlah tokoh lain turut menyampaikan pandangannya. Diah Satyani Saminarsih menilai kebijakan yang terlalu sederhana justru menekan kelompok marjinal.
Shofwan Al-Banna mengkritik kebijakan luar negeri yang dinilai impulsif dan terlalu personal.
Sementara itu, aktivis Untoro Hariadi mengingatkan adanya gejala eksklusi publik dalam proses politik, di mana partai politik dinilai lebih menjadi ruang transaksi dibanding partisipasi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin menyampaikan apresiasi atas keberanian masyarakat sipil dalam menjaga komitmen kebangsaan di tengah berbagai tantangan.
“Kehadiran Anda seperti multivitamin yang meneguhkan kami untuk menjadi komunitas pengharapan,” ujarnya.
Senada, Kardinal Ignatius Suharyo mengungkapkan kekagumannya terhadap semangat delegasi yang dilandasi cinta Tanah Air dan iman. Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi “dosa struktural”, yakni kekuatan negatif yang menyusup dalam sistem sosial, politik, dan ekonomi.
Kardinal juga menekankan pentingnya keteguhan moral tanpa kompromi terhadap kepentingan politik maupun ekonomi, seraya mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu dalam nilai iman dan kemanusiaan.
“Agamanya boleh berbeda, tetapi imannya satu. Kita berbicara atas dasar moralitas untuk Tuhan dan Tanah Air,” pungkasnya.
Pertemuan ini menegaskan pentingnya pendekatan “beyond politics”, yakni menjadikan politik sebagai jalan kemanusiaan dan kebangsaan, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Forum lintas generasi ini diharapkan menjadi embrio gerakan moral yang mampu memperkuat peran masyarakat sipil dan memulihkan kepercayaan publik terhadap kehidupan bernegara. (RN-04)
- Penulis: Didik



Saat ini belum ada komentar