Gelombang Panas Eropa Tewaskan 1.000 Orang di Prancis
- calendar_month 30 menit yang lalu
- print Cetak

Gelombang panas Eropa menewaskan sekitar 1.000 orang di Prancis. Mayoritas korban merupakan lansia, sementara suhu ekstrem masih melanda sejumlah negara di kawasan tersebut. (Foto: Shutterstock)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Paris, ReportaseNews – Gelombang panas yang melanda Eropa sejak akhir Juni terus memakan korban jiwa. Otoritas kesehatan Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih yang diduga berkaitan dengan suhu ekstrem yang menyelimuti kawasan tersebut.
Badan Kesehatan Masyarakat Prancis di bawah Kementerian Kesehatan menyatakan, berdasarkan data sementara, sebagian besar korban meninggal merupakan warga berusia 65 tahun ke atas. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah setelah seluruh laporan kematian dari rumah maupun fasilitas perawatan lansia selesai dihimpun.
Selain kelompok lanjut usia, gelombang panas juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat secara luas.
Sejak 20 Juni, suhu udara ekstrem melanda berbagai negara di Eropa hingga menyebabkan sejumlah museum dan sekolah menghentikan operasional lebih awal demi mengurangi risiko paparan panas.
Berdasarkan perkiraan AFP, sedikitnya 191 juta penduduk Eropa diperkirakan menghadapi suhu mencapai 35 derajat Celsius atau lebih pada Minggu. Gelombang panas paling parah terjadi di Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia. Kondisi serupa juga melanda Slovakia, Serbia, Kroasia, Italia, Austria, hingga wilayah barat Ukraina.
Sementara itu, badan meteorologi Prancis menyebut kondisi cuaca ekstrem mulai mereda di sebagian besar wilayah negara tersebut. Namun, beberapa daerah di timur laut masih berstatus siaga gelombang panas.
Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, mengatakan dampak gelombang panas belum berakhir dan masih akan dirasakan dalam beberapa hari ke depan.
”Peristiwa ini belum berakhir. Dampak gelombang panas masih dapat berlangsung hingga sekitar 10 hari ke depan,” ujar Stephanie Rist, dikutip dari BFM, Minggu (28/6/2026).
Di Jerman, suhu ekstrem juga memicu meningkatnya kecelakaan di perairan. Kantor berita DPA melaporkan sedikitnya tujuh orang meninggal dunia akibat insiden saat berenang sepanjang akhir pekan, ketika banyak warga mencari cara untuk mendinginkan tubuh di danau maupun sungai.
Dua orang dilaporkan tewas dalam insiden terpisah di Berlin pada Sabtu. Dalam kejadian lain, sekelompok warga yang menggunakan perahu karet menemukan seorang pria dalam kondisi tidak sadarkan diri di Danau Jungfernheideteich, Berlin Barat.
Jerman telah dilanda suhu sangat tinggi selama beberapa hari terakhir, bahkan mencapai lebih dari 40 derajat Celsius di sejumlah wilayah.
Layanan Cuaca Jerman (DWD) mencatat suhu malam di Kubschuetz, wilayah timur Jerman, tidak turun di bawah 29,4 derajat Celsius pada Sabtu malam. Catatan tersebut menjadi suhu malam terpanas sejak pencatatan cuaca dimulai hampir 150 tahun lalu.
Pada Sabtu, rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah juga tercatat di Jerman, Denmark, dan Republik Ceko.
Para ilmuwan menilai gelombang panas kali ini hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Selain itu, fenomena yang dikenal sebagai omega block membuat massa udara panas terjebak di suatu wilayah dalam waktu lama sehingga suhu tetap berada pada level ekstrem.
Meski demikian, sebagian besar wilayah Eropa diperkirakan mulai mengalami penurunan suhu pada akhir pekan. Namun, perubahan cuaca tersebut berpotensi memicu hujan lebat disertai badai petir di sejumlah daerah.
(BFM/AFP/RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar