Rachmat Pambudy: Indonesia Targetkan 5,3 Juta Green Jobs
- calendar_month 9 menit yang lalu
- print Cetak

Menteri PPN Rachmat Pambudy menyebut Indonesia menargetkan lebih dari 5,3 juta green jobs pada 2029 sebagai bagian dari transformasi ekonomi hijau menuju Indonesia Emas 2045. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui penciptaan lapangan kerja hijau atau green jobs.
Komitmen tersebut disampaikan Rachmat saat mewakili Presiden RI dalam Hamburg Sustainability Conference yang berlangsung di Hamburg, Jerman, pada 29–30 Juni 2026.
Dalam pidato utamanya pada sesi High-Level Roundtable bertajuk “Why Climate Action Can Become One of The World’s Biggest Job Creators”, Rachmat mengatakan aksi iklim memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja sekaligus mendorong transformasi ekonomi nasional.
”Indonesia memandang aksi iklim bukan hanya sebagai agenda lingkungan, tetapi juga sebagai motor utama transformasi ekonomi menuju visi Indonesia Emas 2045,” kata Rachmat dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Menurut dia, transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten serta pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.
”Aksi iklim membuka peluang bagi penciptaan lapangan kerja baru. Hal ini karena proses transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan perubahan pada proses ekonomi yang perlu didukung dengan tenaga kerja terampil, inovasi, serta infrastruktur yang berkelanjutan dan rendah emisi,” ujarnya.
Rachmat mengungkapkan, berdasarkan Green Jobs Roadmap, Indonesia memperkirakan akan menciptakan lebih dari 5,3 juta lapangan kerja hijau pada 2029.
”Berdasarkan Green Jobs Roadmap, Indonesia memperkirakan akan tercipta lebih dari 5,3 juta lapangan kerja hijau pada tahun 2029, serta transformasi lebih dari 72 juta pekerjaan yang ada menuju praktik kerja yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan,” ucapnya.
Ia menjelaskan, pengembangan green jobs akan difokuskan pada sektor energi terbarukan, ekonomi sirkular, serta pengelolaan lahan dan kehutanan berkelanjutan dengan didukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Untuk mencapai target tersebut, Rachmat menilai kolaborasi internasional menjadi faktor penting.
”Guna mencapai tujuan ini, Indonesia perlu memperkuat kemitraan global,” katanya.
Menurut Rachmat, kerja sama jangka panjang dengan Pemerintah Jerman melalui GIZ dan Program Strategis GESIT menjadi salah satu contoh kemitraan yang mendukung percepatan pembangunan ekonomi hijau di Indonesia.
Di sela-sela Hamburg Sustainability Conference, Rachmat juga menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia, Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Belanda, Menteri Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, serta Board Member and International Affairs Advisor sekaligus mantan Wakil Presiden dan Menteri Luar Negeri Panama.
Selain menghadiri konferensi, Rachmat mengunjungi Sekolah Vokasi Teknik dan Konstruksi BS13 untuk mempelajari sistem pendidikan vokasi di Jerman yang dinilai dapat menjadi referensi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Ia juga meninjau Pelabuhan Hamburg dan berdiskusi dengan Hamburg Port Consulting mengenai pengembangan pelabuhan berkelanjutan.
”Sebagai salah satu pelabuhan terbesar dan tersibuk di Eropa, Pelabuhan Hamburg memiliki pengalaman dalam digitalisasi, efisiensi logistik, serta penerapan teknologi ramah lingkungan yang relevan dengan pengembangan sektor maritim Indonesia,” pungkasnya.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar