Ekonomi Era Prabowo Tumbuh 5,29 Persen, Adi Putra Sebut Indonesia Mulai Masuk Fase Transformasi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Perekonomian Indonesia pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai mulai bergerak dari fase menjaga ketahanan menuju transformasi ekonomi. Pandangan tersebut muncul setelah sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan pertumbuhan di atas 5 persen sepanjang 2026.
Wakil Ketua Umum BPP KAPMI, Adi Putra Nugroho, menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2026 atas dasar harga berlaku juga mencapai Rp6.552,1 triliun.
Menurut Adi, capaian tersebut menunjukkan mesin pertumbuhan domestik masih mampu bekerja di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Ekonomi era Presiden Prabowo mulai bergerak dari agenda ketahanan menuju transformasi,” kata Adi dalam rilisnya, 16 Agustus 2026.
Ia menilai stabilitas makroekonomi menjadi fondasi penting dalam mendorong transformasi tersebut. Salah satunya terlihat dari inflasi yang melandai dari 3,34 persen pada Juni 2026 menjadi 2,88 persen secara tahunan pada Juli 2026.
Selain itu, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada Juli 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung aktivitas ekonomi dan likuiditas.
Ketahanan sektor eksternal juga dinilai masih cukup kuat. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat mencapai US$145,6 miliar, setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor.
“Stabilitas makro menjadi fondasi, hilirisasi menjadi instrumen peningkatan nilai tambah, investasi menjadi penggerak kapasitas produksi, sementara keberpihakan kepada ekonomi rakyat menjadi penentu apakah pertumbuhan benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Adi.
Meski demikian, Adi mengingatkan pemerintah tidak boleh berhenti pada pencapaian pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen.
Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan, pemerataan, kualitas lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
- Penulis: Ferdy Ferdy




Saat ini belum ada komentar