Try Sutrisno Wafat, Jejak Ajudan Jadi Wapres
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Try Sutrisno wafat pada usia 90 tahun di RSPAD Jakarta. Simak perjalanan karier Wakil Presiden ke-6 RI dari ajudan Presiden Soeharto hingga Panglima ABRI. (Foto: Antara/Siti Nurhaliza)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Kabar duka datang dari keluarga besar bangsa Indonesia. Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) pukul 06.58 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Ia wafat dalam usia 90 tahun.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Try disebut telah memberi isyarat kepada anak-anaknya. Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang prajurit yang meniti karier dari lapangan militer hingga lingkaran inti kekuasaan.
Dari Zeni ke Lingkar Istana
Karier militer Try dimulai pada 1960 di kesatuan Zeni. Ia bertugas menangani rekonstruksi dan destruksi prasarana militer di berbagai daerah, mulai dari Palembang, Jakarta, Bandung, hingga Jawa Timur.
Penugasan di lapangan itu berlangsung hingga 1974. Pada tahun tersebut, ia mendapat mandat sebagai ajudan Presiden Soeharto.
Dalam autobiografi Soeharto berjudul Pak Harto: The Untold Stories, Try mengaku tak pernah membayangkan bakal masuk ke lingkungan Istana. “Saya tidak pernah menduga akan menjadi ajudan presiden karena selama ini lebih banyak bertugas di lapangan,” tulisnya.
Empat tahun mendampingi presiden menjadi titik balik. Kedekatan itu membuat namanya kian dikenal dan membuka jalan promosi di tubuh ABRI.
Pecah Bintang hingga Panglima ABRI
Berdasarkan memoar 5 Tahun Masa Bakti Bapak Try Sutrisno, Try dipercaya menjabat Kepala Staf Kodam Udayana, lalu menjadi Panglima Kodam Sriwijaya pada 1979. Tiga tahun kemudian, ia memimpin Kodam Jaya.
Kariernya terus menanjak. Ia pernah menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Pengamat politik Salim Said dalam buku Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian menilai pengangkatan Try sebagai KSAD menunjukkan tingginya kepercayaan Soeharto.
“Keputusan itu bukti Soeharto sangat mempercayainya, meskipun latar belakangnya dari Zeni yang tidak lazim untuk posisi tersebut,” tulis Salim.
Puncak karier militernya tercapai pada 1988 ketika diangkat sebagai Panglima ABRI. Saat itu sempat beredar isu ia akan menjadi wakil presiden, tetapi Soeharto memilih Sudharmono.
Menjadi Wakil Presiden ke-6 RI
Baru pada 1993, Try dilantik sebagai Wakil Presiden ke-6 RI, mengungguli nama lain yang mencuat, termasuk B. J. Habibie.
Salim Said menyebut, pilihan Soeharto tak lepas dari hubungan panjang yang terjalin sejak masa ajudan. Loyalitas dan gaya hidup sederhana dinilai menjadi faktor penentu.
Sejarawan M. C. Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern menulis, lingkaran dekat Soeharto juga memandang Try sebagai figur suksesor potensial jika terjadi kekosongan kepemimpinan.
Sebagai wakil presiden, Try banyak terlibat dalam pengawasan pembangunan nasional hingga akhir masa jabatan pada 1998. Posisinya kemudian digantikan oleh B.J. Habibie seiring perubahan politik nasional.
Kepergian Try Sutrisno menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah militer dan politik Indonesia. Jejaknya sebagai prajurit, panglima, hingga wakil presiden menjadi bagian dari dinamika era Orde Baru. (RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar