PrSM AS vs Kheibar Shekan Iran, Perang Rudal Makin Sulit Dicegat
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Perang Iran-AS memperlihatkan penggunaan PrSM dan Kheibar Shekan, dua rudal dengan jangkauan, teknologi, dan kemampuan berbeda yang mengubah perang modern. (Foto: West Asia News Agency via Reuters/ Majid Asgaripour)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Perang Iran-Amerika Serikat menjadi medan penggunaan generasi baru rudal yang menawarkan jangkauan lebih jauh, mobilitas tinggi, serta waktu respons yang semakin singkat bagi sistem pertahanan lawan.
Amerika Serikat untuk pertama kalinya diketahui menggunakan Precision Strike Missile atau PrSM dalam pertempuran. Di sisi lain, Iran mengklaim mengerahkan rudal balistik Kheibar Shekan yang memiliki jangkauan hingga sekitar 1.450 kilometer.
Kedua rudal tersebut memiliki desain dan fungsi berbeda. Namun, penggunaan PrSM dan Kheibar Shekan menunjukkan arah perkembangan perang modern yang semakin mengandalkan rudal bergerak, serangan jarak jauh, dan kemampuan menghantam sasaran dengan cepat.
PrSM merupakan rudal balistik berbasis darat milik Angkatan Darat AS yang dikembangkan untuk menggantikan Army Tactical Missile System atau ATACMS. Rudal tersebut dirancang memiliki jangkauan sekitar 500 kilometer, lebih jauh dibandingkan varian ATACMS dengan jangkauan sekitar 300 kilometer.
Pengembangan PrSM juga diarahkan untuk meningkatkan jangkauan hingga sekitar 650 kilometer. Varian berikutnya bahkan ditargetkan mampu mencapai sedikitnya 1.000 kilometer.
Rudal tersebut dapat diluncurkan menggunakan HIMARS maupun sistem peluncur berantai M270A2. Kemampuan ini memungkinkan militer AS menggunakan kendaraan peluncur yang sudah tersedia tanpa harus membangun platform baru secara keseluruhan.
Dari sisi kapasitas, satu HIMARS yang sebelumnya hanya dapat membawa satu ATACMS dapat membawa dua PrSM. Rudal ini menggunakan sistem navigasi inersial yang dibantu GPS dan dirancang meledak di atas sasaran sebelum menyebarkan serpihan logam berkecepatan tinggi ke area sekitar.
Penggunaan perdana PrSM dalam perang Iran-AS diketahui setelah Komando Pusat AS atau CENTCOM pada 1 Maret merilis rekaman peluncuran rudal dari HIMARS dalam 24 jam pertama operasi AS terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Penggunaan PrSM kemudian menjadi sorotan setelah terjadi serangan di Lamerd, Iran selatan. BBC Verify pada Maret melaporkan sejumlah pakar persenjataan menilai proyektil dalam rekaman serangan 28 Februari kemungkinan merupakan PrSM.
Lembaga pemantau konflik berbasis Inggris, Airwars, juga menganalisis tiga serangan yang diduga menggunakan PrSM di Lamerd. Salah satu lokasi yang terdampak berada di kawasan permukiman dan dekat fasilitas sipil, termasuk gedung olahraga Shahid Naimi.
Airwars menyebut salah satu serangan menyebabkan kerusakan hingga radius sedikitnya 170 meter. Lembaga tersebut juga mencatat korban sipil tewas hingga jarak sedikitnya 50 meter dari titik ledakan yang diperkirakan.
Menurut Airwars, sedikitnya 21 warga sipil tewas dalam serangan yang mereka selidiki, termasuk tujuh anak-anak dan dua perempuan. Hingga 170 orang lainnya disebut mengalami luka-luka.
Namun, militer AS membantah bertanggung jawab atas serangan di Lamerd. CENTCOM menyatakan rekaman kamera pengawas menunjukkan karakteristik senjata yang digunakan lebih sesuai dengan rudal jelajah Hoveyzeh milik Iran.
Airwars memiliki kesimpulan berbeda. Berdasarkan analisis rekaman serta pola kerusakan di lokasi, lembaga tersebut menilai senjata yang digunakan kemungkinan merupakan PrSM.
Perbedaan analisis itu salah satunya didasarkan pada pola kerusakan. PrSM dirancang meledak di atas permukaan dan menyebarkan serpihan dalam area luas, sehingga kerusakan dapat meninggalkan banyak bekas pada bangunan, jalan, dan kendaraan tanpa membentuk kawah besar seperti rudal yang meledak setelah menghantam permukaan.
Sementara itu, Iran memiliki Kheibar Shekan yang dikembangkan untuk fungsi serangan jarak menengah. Nama Kheibar Shekan secara umum diartikan sebagai “penghancur benteng”.
Rudal tersebut diperkenalkan Iran pada 2022 dan dikembangkan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Iran mengklaim Kheibar Shekan memiliki jangkauan sekitar 1.450 kilometer serta mampu membawa hulu ledak berbobot sekitar 449 hingga 590 kilogram.
Dengan jangkauan tersebut, sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah berada dalam radius ancamannya.
Salah satu karakteristik Kheibar Shekan adalah penggunaan bahan bakar padat. Teknologi ini memungkinkan rudal disimpan dalam kondisi siap digunakan dan dipersiapkan untuk peluncuran lebih cepat dibandingkan sejumlah rudal berbahan bakar cair yang membutuhkan proses persiapan lebih panjang.
Kecepatan persiapan tersebut menjadi faktor penting dalam perang rudal. Semakin singkat waktu persiapan peluncuran, semakin kecil kesempatan lawan mendeteksi dan menghancurkan sistem peluncur sebelum rudal ditembakkan.
Iran dan sejumlah analis juga menyebut kendaraan masuk kembali atau re-entry vehicle Kheibar Shekan memiliki kemampuan manuver pada fase akhir penerbangan. Kemampuan tersebut ditujukan untuk membuat lintasan hulu ledak lebih sulit diprediksi dan pada akhirnya menyulitkan sistem pertahanan rudal melakukan pencegatan.
Sejak konflik Iran-AS dimulai pada 28 Februari, Teheran berulang kali mengklaim menggunakan Kheibar Shekan untuk menyerang posisi militer AS.
IRGC merilis rekaman yang memperlihatkan Kheibar Shekan bersama rudal balistik Iran lainnya, seperti Fateh-110, Zolfaghar, dan Emad. Iran menyebut rudal-rudal tersebut digunakan untuk menyerang sejumlah sasaran militer AS.
Ketika ketegangan kembali meningkat pada akhir Agustus, otoritas Iran juga mengklaim Kheibar Shekan digunakan dalam serangan terhadap aset AS di Yordania.
Teheran turut mengklaim menyerang sasaran yang berkaitan dengan AS di Bahrain, Kuwait, dan Erbil, Irak utara. Namun, sejumlah klaim tersebut sulit diverifikasi secara independen.
Penggunaan PrSM dan Kheibar Shekan memperlihatkan perubahan penting dalam doktrin perang rudal. Keduanya dikembangkan dengan pendekatan berbeda, tetapi sama-sama mengandalkan kemampuan menyerang dari jarak jauh menggunakan sistem yang relatif sulit dilacak sebelum peluncuran.
Bagi Amerika Serikat, PrSM memberikan kemampuan kepada pasukan darat untuk menyerang sasaran bernilai tinggi dari jarak lebih jauh dengan peluncur bergerak. Sistem ini juga dikembangkan untuk menghadapi sasaran seperti peluncur rudal dan sistem pertahanan udara.
Varian PrSM berikutnya bahkan diarahkan untuk menyerang sasaran bergerak, termasuk kapal. Pada Juni, The Defense Post melaporkan Angkatan Darat AS memberikan modifikasi kontrak senilai 8,4 miliar dolar AS kepada Lockheed Martin untuk meningkatkan kapasitas produksi PrSM.
Sementara bagi Iran, Kheibar Shekan menjadi bagian dari arsenal rudal yang mencakup kemampuan serangan jarak pendek hingga jarak jauh. Sistem seperti Emad, Ghadr, Khorramshahr, dan Sejjil memperluas pilihan Iran untuk menjangkau sasaran di kawasan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan rudal tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh sebuah senjata dapat terbang. Kecepatan persiapan, mobilitas peluncur, presisi, kemampuan bermanuver, dan waktu yang tersedia bagi pertahanan udara untuk merespons kini menjadi bagian penting dalam menentukan efektivitas serangan.
(Anadolu/RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar