Teheran Masih Digempur Rudal, Warga Bertahan di Tengah Perang
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Perang Iran dan Israel mengguncang Teheran. Ledakan rudal terjadi setiap hari, sementara warga bertahan di tengah inflasi tinggi dan ekonomi yang semakin tertekan. (Foto: EPA/Abedin Taherkenareh)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, ReportaseNews — Suara ledakan rudal menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga ibu kota Iran sejak perang pecah akhir pekan lalu. Meski situasi mencekam, sebagian warga memilih tetap bertahan dan melanjutkan aktivitas mereka.
Sepehr, seorang warga di wilayah timur Teheran, mengatakan ia dan keluarganya belum berencana meninggalkan kota dalam waktu dekat.
“Perang ini mungkin akan berlangsung beberapa minggu, jadi saya dan keluarga hanya akan pergi jika situasinya menjadi sangat buruk. Untuk sekarang, hidup masih berjalan,” ujarnya, seperti dikutip Al-Jazeera, Kamis (5/3/2026).
Ia mengungkapkan, dentuman ledakan terdengar hampir setiap hari di lingkungannya. Asap tebal kerap terlihat membumbung tinggi di kejauhan, bahkan getaran ledakan membuat jendela rumah bergetar.
Situasi serupa juga terjadi di berbagai sudut Teheran, kota berpenduduk hampir 10 juta orang. Serangan rudal dari Amerika Serikat dan Israel dilaporkan terjadi bergelombang sejak perang dimulai pada Sabtu pagi.
Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.000 orang hingga saat ini.
Pemerintah Iran menyatakan sejumlah fasilitas air dan listrik terkena dampak serangan pada Kamis. Meski begitu, otoritas memastikan belum terjadi pemadaman besar-besaran.
Di sisi lain, aktivitas kota mulai melambat. Jalanan ibu kota terlihat lebih lengang dari biasanya dan banyak toko memilih tutup sementara.
Namun kebutuhan pokok masih tersedia, baik di toko fisik maupun melalui layanan pemesanan daring.
Marjan, warga yang tinggal di kawasan barat Teheran, kepada Al-Jazeera mengatakan ia masih bisa membeli kebutuhan sehari-hari meski harus antre.
“Ketika serangan bom berhenti sementara, saya biasanya keluar sebentar untuk membeli kebutuhan di toko dekat rumah. Biasanya ada antrean roti yang tidak terlalu panjang, dan antrean di beberapa pom bensin,” katanya.
Ia menambahkan, sebagian besar barang masih tersedia di toko. Namun lonjakan harga membuat banyak warga semakin terbebani.

Suasana pasar di Teheran selama serangan AS-Israel ke Iran, Kamis (5/3/2026). (Foto: West Asia News Agency via Reuters/Majid Asgaripour)
“Kecuali beberapa barang yang mulai langka, toko-toko masih punya hampir semua yang dibutuhkan. Tapi harga sekarang sangat memberatkan masyarakat,” ujarnya.
Tekanan ekonomi memang sudah dirasakan warga bahkan sebelum perang dimulai. Dua laporan resmi yang dirilis beberapa hari sebelumnya menunjukkan inflasi di Iran melonjak tajam.
Pusat Statistik Iran mencatat inflasi tahunan mencapai 68,1 persen pada Februari. Sementara Bank Sentral Iran memperkirakan angka inflasi berada di kisaran 62,2 persen.
Kenaikan harga paling drastis terjadi pada bahan makanan. Inflasi pangan di Iran mencapai sekitar 105 persen.
Beberapa komoditas bahkan melonjak lebih tinggi, seperti minyak goreng yang naik hingga 207 persen, daging merah 117 persen, telur dan produk susu 108 persen, buah-buahan 113 persen, serta roti dan jagung 142 persen.
Pemerintah Iran juga mengakui adanya kekhawatiran terkait ketersediaan obat-obatan dan peralatan medis di tengah konflik.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, mengatakan pemerintah terus memantau situasi tersebut.
“Kami memiliki kekhawatiran tentang penyediaan obat dan peralatan medis yang cukup, tetapi untungnya kondisi saat ini masih baik,” ujarnya kepada media pemerintah.
Meski demikian, pasar obat di Iran dilaporkan mengalami gejolak dalam beberapa pekan terakhir. Harga obat melonjak dan beberapa jenis obat, termasuk antidepresan, mulai sulit ditemukan di Teheran dan kota lain.
Sementara itu, nilai mata uang rial Iran juga berada di titik terendah. Sebelum perang pecah, satu dolar AS setara sekitar 1,66 juta rial.
Di tengah ketidakpastian konflik, pasar saham Iran merosot tajam, sementara aset tradisional seperti emas justru melonjak karena dianggap lebih aman oleh investor. (Al-Jazeera/RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar