Satgas PRR Ungkap Perubahan Drastis Penyintas Aceh Usai Tempati Huntara
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Hunian sementara di Bener Meriah, Aceh, membawa perubahan besar bagi penyintas bencana. Tito Karnavian memastikan bantuan lanjutan segera disalurkan. (Dok. Kemendagri)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews — Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyebut pembangunan hunian sementara (huntara) berhasil memulihkan kondisi psikologis dan sosial penyintas bencana di Desa Tunyang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Menurut Tito, perubahan kondisi warga terlihat signifikan dibandingkan dua bulan sebelumnya. Saat itu, banyak penyintas masih berada dalam tekanan setelah tinggal di tenda darurat.
“Ini (huntara) luar biasa saya enggak banyak melihat yang seperti ini. Sangat rapi dan mereka juga terlihat sekali wajah masyarakat jauh beda waktu kita dua bulan lalu datang, mereka menangis, di sini mereka sudah tersenyum tertawa,” ujar Tito seperti dilansir Antara, Jumat (24/4/2026).
Pembangunan huntara di Desa Tunyang tidak hanya menyediakan tempat tinggal sementara, tetapi juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti sanitasi, area bermain anak, sarana olahraga, aula, dan masjid untuk aktivitas sosial masyarakat.
Keberadaan fasilitas tersebut dinilai membantu mempercepat pemulihan kehidupan warga terdampak bencana, baik secara fisik maupun mental.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah bantuan lanjutan untuk memastikan kebutuhan dasar penyintas tetap terpenuhi selama masa transisi menuju hunian tetap (huntap).
Bantuan tersebut meliputi jaminan hidup sebesar Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan, bantuan isi hunian sebesar Rp3 juta, serta bantuan ekonomi Rp5 juta per kepala keluarga.
Program ini menjadi bagian dari skema pemulihan pascabencana yang dirancang untuk menjaga stabilitas kehidupan masyarakat terdampak.
Tito meminta pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, segera merampungkan pendataan calon penerima hunian tetap. Ia menekankan pentingnya validasi data untuk menentukan skema pembangunan, baik huntap di lokasi semula (in-situ) maupun dalam bentuk kawasan komunal.
“Jadi saya memerlukan data itu secepat mungkin. Nanti tolong (mereka) didatangi, Bapak Bupati, apa pilihan dari warga-warga,” kata Tito.
Dalam kunjungan tersebut, Tito juga bertemu Kartini, salah satu penyintas yang kini tinggal di huntara bersama dua anaknya. Ia mengaku kondisi hidupnya jauh lebih baik dibanding saat masih berada di pengungsian darurat.
“Saya cuma mau mengucapkan terima kasih sudah dibangunkan huntara. Jujur sangat meredakan (kesulitan hidup) kami ketimbang waktu di tenda,” ujar Kartini.
Kartini juga mengungkapkan bahwa Tito masih mengingat dirinya saat pertama kali bertemu di lokasi pengungsian.
“Beliau langsung tahu saya, begitu saya bilang ‘saya Kartini’. Beliau langsung tanya gimana kabar anak-anak saya,” kata dia.
Meski merasa nyaman tinggal di hunian sementara, Kartini berharap pembangunan hunian tetap segera terealisasi agar ia dapat menata kembali kehidupannya bersama keluarga.
“Kami sangat senang tinggal di huntara, kondisi kami sudah membaik,” kata Kartini.
Pemerintah menargetkan percepatan pembangunan hunian tetap sebagai langkah akhir dalam proses pemulihan pascabencana di wilayah tersebut. (RN-07)
- Penulis: Tama


Saat ini belum ada komentar