Terjepit di Ladang Sawit, Orang Utan Jantan Dievakuasi ke Rimba Leuser
- calendar_month 9 menit yang lalu
- print Cetak

Tim BBKSDA mengevakuasi orang utan dari ladang warga di Langkat dan dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Leuser. (Foto: Dok. BBKSDA Sumut)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Langkat, ReportaseNews – Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara bersama mitra mengevakuasi seekor Orang Utan Sumatera (Pongo abelii) jantan berusia 25 tahun yang terjebak di areal perladangan warga Desa Karya Jadi, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat.
Tindakan penyelamatan itu sebagai upaya preventif untuk melindungi satwa dilindungi tersebut dari risiko interaksi negatif dengan aktivitas manusia di lahan produktif.
Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA Sumut Andar Abdi Saragih mengatakan keberadaan primata besar ini kali pertama terdeteksi oleh tim HOCRU YOSL-OIC pada 20 April 2026 saat melakukan pemantauan rutin.
Laporan warga sekitar menyebutkan individu tersebut sering terlihat turun ke ladang karet dan sawit, sehingga memicu kekhawatiran akan keselamatan satwa dari ancaman eksternal yang ada di area perkebunan.
“Warga khawatir orang utan berisiko memakan racun pertanian atau tertembak pemburu babi yang kerap beraktivitas di area tersebut,” ujar Andar, Sabtu (25/4/2026).
Proses evakuasi dilakukan pada Selasa, 21 April 2026, setelah tim gabungan menemukan orang utan seberat 60 kg itu berada di tengah ladang karet yang dikelilingi tanaman sawit muda. Setelah dilakukan pemeriksaan medis di lokasi, satwa tersebut dinyatakan dalam kondisi fisik yang prima tanpa ditemukan adanya luka atau cacat permanen pada tubuhnya.
“Kondisinya dinyatakan sehat, tidak ditemukan luka maupun cacat, sehingga direkomendasikan untuk segera ditranslokasi ke habitat yang lebih aman pada hari yang sama,” kata Andar.
Individu orang utan tersebut kini dilepasliarkan ke hutan primer Resor Cintaraja yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Meskipun lokasi pelepasliaran berjarak 14 km dari titik evakuasi, petugas harus menghadapi medan berat, termasuk menyeberangi sungai menggunakan rakit, untuk memastikan satwa sampai ke jantung hutan yang lebih aman.
Andar mengatakan keberhasilan operasi ini merupakan buah dari kolaborasi respons cepat antara masyarakat dan petugas konservasi dalam menjaga keberlangsungan hidup satwa endemik Sumatera tersebut.
Menurut dia, kegiatan ini merupakan bentuk respon cepat kolaborasi para pihak dalam menangani potensi interaksi negatif antara manusia dan orang utan serta upaya penyelamatan satwa liar dilindungi agar dapat kembali hidup aman di habitat alaminya. (RN-03)
- Penulis: RN-03



Saat ini belum ada komentar