3 Tahun Menunggu, Berjumpa Lagi Dengan Jalan dan Musim Durian (Bagian Satu)
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Petualangan Asa 1. (Dok. ReportaseNews)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ReportaseNews – Pagi itu, Pontianak seperti sedang menikmati jedanya sendiri. Langit cerah menggantung tenang di atas kota, sementara gerimis kecil turun malu-malu membasahi aspal dan dedaunan. Udara terasa teduh, syahdu, seolah mengajak siapa saja untuk memperlambat langkah dan menikmati pagi lebih lama.
Di tengah suasana itulah sebuah kerinduan lama akhirnya menemukan jalannya.
Usai salat subuh di Masjid Maulidayah, Jalan Danau Sentarum, dan mendengarkan tausiah menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang jatuh pada 16 Juni 2026, saya pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Tiga tahun vakum dari kegiatan bersepeda motor, ternyata menyisakan ruang rindu yang diam-diam terus tumbuh.
Setelah berganti pakaian dan menyiapkan perlengkapan seperlunya, perjalanan diawali dengan secangkir kopi panas dan roti bakar di Warkop Panorama, Jalan Agus Salim. Pukul 08.17 WIB, mesin Kawasaki Versys kembali mengaum pelan. Tak ada rombongan, tak ada konvoi. Hanya saya, motor, dan jalan yang sudah lama tidak disapa.
Rute menuju Sungai Pinyuh hingga Desa Ngarak, Kabupaten Landak, menjadi pelarian sempurna dari hiruk-pikuk kota. Hamparan hijau, udara pedesaan yang segar, dan pemandangan khas Kalimantan menghadirkan ketenangan yang selama ini terasa hilang.
Tujuan perjalanan kali ini sederhana, namun begitu menggoda: berburu durian lokal Kalimantan yang sedang memasuki musim. Durian dengan kulit tebal, daging berwarna kuning keemasan, tekstur padat, serta cita rasa legit berpadu pahit-manis yang menjadi ciri khas buah dari pedalaman Borneo.

Petualangan Asa 1. (Dok. ReportaseNews)
Sesampainya di Ngarak, semua rasa lelah seakan runtuh bersamaan dengan terbukanya kulit durian pertama. Aroma khas langsung menyeruak, menghadirkan pengalaman yang tak bisa digantikan oleh apa pun. Di bawah rindangnya pepohonan dan suasana desa yang tenang, durian bukan sekadar buah, melainkan alasan untuk kembali menyusuri jalan.
Tiga tahun tanpa perjalanan ternyata membuat setiap kilometer terasa lebih berharga. Dan pagi yang dimulai dengan gerimis kecil di Kota Pontianak itu akhirnya berubah menjadi perjalanan yang mengingatkan kembali mengapa seorang anak motor selalu rindu pada jalanan, pedesaan, dan cerita sederhana yang hanya bisa ditemukan saat berpetualang sendiri. (*/RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar