Jakarta, Reportasenews— Isu sensitif kembali menghampiri sektor keuangan nasional. Dugaan praktik “bank dalam bank” di Bank Indonesia (BI) pernah mencuat pada era penyaluran BLBI kini kembali disorot setelah Andri Tedjadharma, pemegang saham Bank Centris International menjadi korban dalam melakukan perjalanan jual beli promes disertai penyerahan dengan Bank Indonesia. Andri menyampaikan peringatan soal potensi risiko terhadap stabilitas moneter.

Dalam pernyataannya, Andri menilai praktik tersebut dapat memicu hilangnya kepercayaan antarbank dan bahkan mempengaruhi posisi Surat Berharga Negara (SBN) yang kini menjadi salah satu jangkar pembiayaan fiskal Indonesia.

“Kalau praktik seperti ini masih terjadi, dampaknya bisa sistemik. Bank-bank bisa dipaksa mencairkan SBN mereka, dan efek berantainya mengarah langsung ke Bank Indonesia,” ujar Andri.

Potensi Rush Rp5.000 Triliun?

Andri memperkirakan bahwa bila kepanikan terjadi, nilai SBN yang berpotensi dicairkan dapat mencapai Rp5.000 triliun, atau sekitar separuh dari total SBN yang beredar saat ini. Ia menyebut skenario tersebut dapat terjadi bila kepercayaan antarbank runtuh akibat dugaan aktivitas di internal BI.

“Ini bukan rush ke bank-bank umum, tapi rush ke bank sentralnya. Kalau kepercayaan hilang, imbasnya bukan hanya ke Indonesia, tapi juga persepsi global terhadap bank sentral,” kata Andri.

Hingga kini, Bank Indonesia belum merespons secara resmi mengenai pernyataan tersebut.

Dugaan Bank dalam Bank di BI Kembali Mengemuka

Isu “bank dalam bank” pernah menjadi sorotan publik pada masa krisis akhir 1990-an ketika audit BPK terhadap BLBI memunculkan sejumlah kejanggalan. Andri menyebut bahwa pola serupa berpotensi masih ada.

“Dulu, kejatuhan rezim terjadi karena persoalan seperti ini. Jangan sampai sejarah berulang,” ujarnya mengaitkan isu tersebut dengan dinamika politik dan ekonomi pada masa lalu.

Desak Presiden Bentuk Tim Audit Independen

Andri mendesak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan langkah cepat dengan membentuk audit independen terhadap sistem pengawasan dan operasional Bank Indonesia.

“Saya minta Presiden membentuk tim audit independen, melibatkan BPK dan akademisi. Kalau BI bersih, audit akan memperkuat kepercayaan. Kalau ada masalah, rakyat berhak tahu,” tegasnya.

Ia menilai keterbukaan sebagai satu-satunya jalan untuk memastikan stabilitas keuangan tetap terjaga.

Tantangan Kepercayaan di Era Ketidakpastian

Para ekonom menilai bahwa dalam situasi global yang tidak stabil, kepercayaan adalah modal terpenting bank sentral. SBN menjadi instrumen utama bank dan lembaga keuangan dalam mengatur likuiditas mereka. Gangguan kecil sekalipun pada persepsi pasar dapat berdampak luas.

Hingga berita ini diturunkan, Bank Indonesia belum memberikan tanggapan atas seruan audit tersebut.(rn)