Mahasiswi Ini Menuntaskan Janji Suci kepada Sang Ayah di Tanah Suci
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Amida Fitri, mahasiswi 21 tahun asal Panyabungan, berangkat haji tahun 2026 untuk menggantikan almarhum ayahnya. (FOTO: STARTNEWS)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Madina, ReportaseNews – Amida Fitri melangkah mantap memasuki bus rombongan Kelompok Terbang (Kloter) 6 Mandailing Natal (Madina) pada Minggu, 26 April 2026. Mahasiswi berusia 21 tahun asal Kecamatan Panyabungan ini membawa misi yang melampaui sekadar ibadah pribadi.
Di balik seragam batik haji yang dia kenakan, tersimpan amanah besar yang dia pikul untuk menuntaskan impian almarhum ayahnya yang belum sempat menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Perjalanan ini bukanlah rencana awal dalam hidup Amida sebagai seorang mahasiswa semester akhir. Namun, takdir berkata lain ketika sang ayah berpulang sebelum jadwal keberangkatannya tiba.
Amida kemudian memilih untuk berdiri di barisan jamaah, bukan hanya sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai pengganti atau badal bagi sosok yang sangat dia cintai.
Persiapan yang dilakukan Amida tergolong singkat dan padat di tengah kesibukannya menyelesaikan tugas akhir di bangku kuliah. Namun, bagi Amida, kelelahan fisik tidak sebanding dengan besarnya tanggung jawab moral yang dia rasakan.
Amida telah mematangkan mental dan fisik agar seluruh rangkaian rukun haji dapat dia jalankan dengan sempurna demi sang ayah.
“Saya berangkat menggantikan ayah. Alhamdulillah persiapan selama ini berjalan lancar,” kata Amida dengan nada suara yang tenang tetapi penuh keteguhan.
Di tengah ribuan jamaah yang didominasi oleh lansia, kehadiran Amida menjadi pemandangan yang menyentuh. Dia menjadi simbol bakti generasi muda yang bersedia mengesampingkan ego masa muda demi menunaikan kewajiban orang tua.
Meskipun berangkat dengan senyum, Amida tidak menampik bahwa ada gejolak emosi yang kuat di dalam dadanya sepanjang prosesi pelepasan di Madina.
Harapan Amida sederhana, tetapi mendalam. Dia ingin setiap langkah tawaf dan setiap doa yang dia panjatkan di depan Ka’bah menjadi aliran pahala yang tidak terputus bagi almarhum ayahnya. Di Tanah Haram nanti, dia telah menyiapkan ruang khusus di hatinya untuk membisikkan doa terbaik bagi orang tuanya.
“Semoga haji ini menjadi mabrur dan pahalanya bisa sampai kepada orang tua, terutama untuk almarhum ayah. Semoga beliau ditempatkan di sisi terbaik Tuhan,” tuturnya.
Selain doa untuk sang ayah, mahasiswi semester akhir ini juga menyelipkan harapan bagi keluarga yang dia tinggalkan di Tanah Air. Dia memohon perlindungan dan kesehatan bagi mereka selama dia menjalankan ibadah yang memakan waktu kurang lebih empat puluh hari tersebut.
Keberangkatan ini memang menyisakan ruang kosong, karena ketiadaan sosok ayah di sampingnya. Namun, Amida percaya bahwa menjalankan amanah ini adalah cara terbaik untuk tetap merasa dekat dengan ayahnya.
Bagi Amida, keberangkatan ini perpaduan antara kebahagiaan karena panggilan Ilahi dan kesedihan karena kerinduan yang mendalam.
“Perasaannya tentu bahagia, tapi juga terharu dan ada sedihnya,” ungkap anak kedua tersebut sambil mencoba tegar di hadapan para pengantar.
Kini, Amida telah memulai perjalanannya menuju Mekkah. Dia membawa identitas mahasiswi. Namun di atas segalanya, dia adalah seorang putri yang sedang menuntaskan janji suci kepada ayahnya di rumah Tuhan. (RN-03)
- Penulis: RN-03



Saat ini belum ada komentar