ZIIS Banyumas Genjot Pendidikan Nonformal
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyumas , ReportaseNews – Pondok Pesantren Modern ZIIS Banyumas mempertegas perannya dalam menjawab persoalan anak tidak sekolah (ATS) dengan meresmikan Gedung Satria, meluncurkan 21 PKBM Surya Muhammadiyah, serta memulai pembangunan Padepokan Tapak Suci, Sabtu (25/4/2026), di Kampus II, Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok.
Agenda yang dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dan Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, ini bukan sekadar seremoni. Kegiatan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pesantren mulai mengambil peran lebih strategis dalam menutup celah pendidikan formal yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Pimpinan Ponpes ZIIS, KH Casiwan Haryo Sasongko, menegaskan bahwa peluncuran PKBM merupakan bagian dari “gerakan nyata” Muhammadiyah dalam menghadapi meningkatnya angka ATS. Ia menyoroti tren menurunnya angka lulusan SMP yang melanjutkan ke jenjang SMA.
“Ini bukan persoalan kecil. Banyak anak berhenti sekolah. Maka PKBM ini kami hadirkan sebagai solusi konkret pendidikan alternatif,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya model pendidikan pesantren berbasis enam tahun sebagai upaya membentuk karakter sekaligus menjaga kesinambungan pendidikan santri. Menurutnya, tanpa pola pendidikan yang kuat, risiko putus sekolah akan semakin besar.
Sementara itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyoroti akar persoalan ATS yang dinilainya kompleks dan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan konvensional. Ia menyebut faktor ekonomi, pilihan bekerja sejak dini, pernikahan usia muda, hingga keterbatasan akses sebagai penyebab utama.
“Masih banyak anak yang merasa cukup sampai SMP. Bahkan ada yang memilih bekerja karena penghasilan harian dianggap lebih menjanjikan daripada sekolah,” ungkapnya.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya perubahan paradigma pendidikan.
Menurutnya, pendidikan tidak boleh lagi dimaknai semata sebagai sekolah formal, melainkan sebagai proses belajar yang fleksibel, terjangkau, dan terbuka bagi semua.
“Kami dorong pendidikan yang bisa diakses siapa saja, fleksibel dalam waktu dan proses, serta terjangkau secara biaya. Di sinilah peran penting pendidikan nonformal seperti PKBM,” ujarnya.
Di sisi lain, Bupati Sadewo Tri Lastiono menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan pendidikan berbasis masyarakat. Ia menegaskan bahwa pemerataan pendidikan menjadi kunci mewujudkan Banyumas yang produktif, adil, dan sejahtera.
“Ini bukan sekadar pembangunan gedung, tetapi investasi karakter dan masa depan generasi Banyumas,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa di tengah keterbatasan anggaran, kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dan organisasi masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan program pendidikan.
Selain peresmian Gedung Satria, kegiatan juga ditandai dengan peletakan batu pertama Padepokan Tapak Suci sebagai pusat pembinaan bela diri sekaligus penguatan karakter santri.
Ponpes ZIIS sendiri dikenal mengintegrasikan pendidikan akademik dan pembinaan fisik melalui ekstrakurikuler unggulan seperti berkuda, memanah, dan berenang.
Dengan peluncuran 21 PKBM ini, Banyumas diharapkan menjadi model pengembangan pendidikan nonformal berbasis pesantren dalam menekan angka anak tidak sekolah sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.(Kus/RN-04)
- Penulis: Didik



Saat ini belum ada komentar