Sekolah Dasar di Teheran Jadi Sasaran Serangan AS-Israel
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Orang-orang berduka pada hari pemakaman massal para korban serangan terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran, di tengah perang AS-Israel di negara itu, 3 Maret 2026. (Foto: ISNA/West Asia News Agency via Reuters/Amirhossein Khorgooei)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, ReportaseNews – Sebuah sekolah dasar di kawasan Niloufar Square, Teheran, Iran, dilaporkan terkena serangan dalam operasi militer Amerika Serikat dan Israel. Informasi tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.
Pada Jumat (waktu setempat), Baghaei mengunggah sebuah video di platform X yang memperlihatkan kondisi Sekolah Shahid Hamedani sebelum dan sesudah serangan. Namun, ia tidak merinci kronologi kejadian maupun jumlah korban dalam insiden tersebut.
Jika laporan tersebut terkonfirmasi, maka sekolah di Teheran itu menjadi fasilitas pendidikan keempat di Iran yang terdampak serangan sejak konflik bersenjata pecah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sebelumnya, sekolah putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Iran selatan, dilaporkan menjadi lokasi pertama yang terkena serangan pada hari pertama operasi militer. Para pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut serangan itu menewaskan sedikitnya 160 anak dan lima staf sekolah.
Sejumlah situs dan akun media sosial yang berafiliasi dengan Israel mengklaim lokasi tersebut merupakan bagian dari pangkalan Garda Revolusi Iran.
Namun, analisis unit investigasi digital seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (6/3/2026), terhadap citra satelit selama lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa sekolah tersebut berdiri terpisah dari fasilitas militer di sekitarnya setidaknya selama 10 tahun terakhir.
Hasil investigasi itu juga memunculkan keraguan mengenai akurasi informasi intelijen yang menjadi dasar pengeboman. Temuan tersebut bahkan membuka kemungkinan bahwa sekolah itu sengaja menjadi sasaran serangan.
Di tengah sorotan internasional, Amerika Serikat mengakui pihak militernya sedang menyelidiki insiden tersebut. Kantor berita Reuters, mengutip dua pejabat AS, melaporkan bahwa penyelidik militer AS menduga serangan tersebut kemungkinan dilakukan oleh pasukan Amerika, meski belum ada kesimpulan akhir.
Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Turk mendesak Washington segera menyelesaikan penyelidikan secara terbuka.
“Kami membutuhkan proses ini berlangsung sangat cepat dan juga memastikan adanya pertanggungjawaban serta pemulihan bagi para korban,” kata Turk kepada wartawan di Jenewa.
Sementara itu, serangan lain terhadap fasilitas pendidikan juga dilaporkan terjadi sehari sebelumnya. Media pemerintah Iran menyebut rudal yang ditembakkan Amerika Serikat dan Israel menghantam dua sekolah di Kota Parand, wilayah barat daya Teheran, pada Kamis (5/3/2026).
Kantor berita Fars merilis foto kerusakan di ruang kelas serta puing-puing bangunan. Beberapa unit hunian di sekitar lokasi juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat ledakan.
Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan, dari lebih dari 1.300 orang yang tewas akibat serangan di Iran hingga kini, sedikitnya 181 di antaranya adalah anak-anak.
Para pakar hukum internasional menegaskan bahwa serangan yang secara sengaja menargetkan sekolah dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Jika keterlibatan militer Amerika Serikat terbukti, insiden ini berpotensi menjadi salah satu kasus korban sipil terburuk dalam konflik Timur Tengah selama beberapa dekade terakhir. (RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar