Kebaya di Balik Mesin: Semangat Kartini Hidup di Bengkel Kecil di Ajibarang
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Aksi mekanik perempuan di Banyumas mengenakan kebaya saat bekerja viral di Hari Kartini. Kisah inspiratif ini jadi bukti perempuan mampu menembus batas profesi. (Foto: ReportaseNews/Kus)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyumas, ReportaseNews — Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, diwarnai aksi tak biasa. Seorang mekanik perempuan tampil mengenakan kebaya saat bekerja di bengkel, menarik perhatian pelanggan sekaligus menjadi simbol kuat emansipasi perempuan.
Di tengah aktivitas bengkel yang identik dengan suara mesin dan bau oli, Dwi Apriani justru hadir dengan balutan kebaya. Ia tetap menjalankan pekerjaannya seperti biasa di Bengkel Teja Motor, Ajibarang, tanpa mengurangi ketelitian dan kecepatan dalam memperbaiki kendaraan.
Bagi Dwi, kebaya yang dikenakan bukan sekadar busana tradisional. Ia memaknainya sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan R.A. Kartini sekaligus penegasan bahwa perempuan memiliki ruang yang sama di dunia kerja, termasuk sektor otomotif.
“Semangat perjuangan Kartini ini sekaligus menunjukkan bahwa perempuan bisa berkarya di bidang apa pun, termasuk otomotif,” kata Dwi, Selasa (21/4/2026).
Penampilannya yang tak lazim sempat mengejutkan pelanggan. Namun, reaksi tersebut berubah menjadi apresiasi setelah melihat hasil kerjanya yang dinilai memuaskan.
“Yang pastinya terkejut, tapi juga mereka mengapresiasi. Katanya ini unik,” ujar Dwi.
Dwi menegaskan bahwa momentum Hari Kartini menjadi pengingat penting bagi perempuan untuk berani melangkah dan mandiri. Ia menilai tidak ada batasan bagi perempuan untuk menekuni profesi yang selama ini didominasi laki-laki.
“Kartini mengingatkan kita bahwa perempuan harus berani, mandiri, dan tidak takut menekuni profesi yang didominasi laki-laki,” tambahnya.
Salah satu pelanggan, Yandi, mengaku sempat meragukan kemampuan Dwi saat pertama kali mengetahui motornya ditangani oleh seorang perempuan. Namun, keraguan itu hilang setelah melihat hasil servis.
“Awalnya kaget, ternyata yang memperbaiki perempuan. Tapi servisnya bagus, hasilnya memuaskan dan harganya terjangkau,” ungkap Yandi.
Di sela kesibukannya, Dwi juga menyampaikan pesan kepada perempuan Indonesia agar tidak ragu mengejar impian. Ia menekankan pentingnya rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan.
“Terus percaya diri dan buktikan bahwa perempuan bisa melakukan apa saja,” tuturnya.
Kisah Dwi menjadi gambaran nyata bahwa semangat Kartini tetap relevan hingga kini. Nilai keberanian dan kemandirian terus hidup melalui perempuan-perempuan yang berani menembus batas dan berkarya di berbagai bidang. (Kus)
- Penulis: Kusworo
- Editor: Ullifna Tamama



Saat ini belum ada komentar